Sabtu, 03 Januari 2015

Semua Karena Manusia



DALAM salah satu karya naskah dramanya yang berjudul Antigone, Sopokles mengatakan ‘dari segala mahkluk yang diciptakan, manusia yang paling luar biasa. Samudera raya ditaklukannya, gunung dan lembah ia tundukkan. Topan, badai dan amuk gelombang pun dilawannya’.
Dan memang itulah faktanya. Hampir tak ada jengkal bumi yang tak didiami manusia. Di dalam gelapnya rimba belantara, di tengah kerontangnya gurun pasir bahkan di membekunya kawasan kutub.
Akalnya dipakai untuk menyiasati kejamnya alam. Bahkan dari alam itulah mereka mendapatkan kehidupan. Lahan-lahan subur didayagunakan sebagai areal pertanian. Yang kurang subur direkayasa hingga mampu mentunaskan biji-bijian dan sebagainya. Bagi manusia alam adalah sumber kehidupan yang berlimpah.  
Sayang, potensi alam semesta yang begitu luar biasa itu dieksploitir secara berlebihan. Berlipatnya jumlah populasi manusia setiap harinya membuat lahan-lahan kosong pun kian terkikis menjadi kawasan pemukiman yang sarat dengan kerentanan ekologis yang besar. Sampah rumah tangga menjadi limbah yang mencemari tanah, air dan udara.
Dalam menjalankan usahanya, manusia juga habis-habisan mengekplorasi bumi, air dan kekayaan alam di dalamnya. Hutan-hutan dibabat untuk areal pertanian, perkebunan dan kwasan pertambangan bahan mineral.
Pohon-pohonnya tergerus sebagai bahan baku industri untuk memenuhi keperluan manusia. Lebih parahnya lagi industrialisasi itu juga menghasilkan berbagai jenis limbah yang mengotori alam semesta.
Pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik, penggunaan kendaraan bermotor, AC, komputer dan kegiatan lainnya yang dilakukan secara berlebihan itulah yang kemudian meningkatkan jumlah berbagai jenis gas yang berada di lapisan ozon.
Gas-gas seperti CO2 (Karbon dioksida),CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) dan SF6 (Sulphur hexafluoride) inilah yang kemudian menahan sebagian besar panas sinar matahari di atmosfer bumi dan kemudian memantulkannya kembali.
Secara alamiah memang begitulah seharusnya. Sebagian sinar matahari yang masuk ke bumi akan dipantulkan kembali hingga membuat suhu bumi menjadi hangat dan layak ditempati manusia. Jika tidak ada proses yang disebut efek rumah kaca tersebut maka suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius lebih dingin daripada patokan normalnya.
Hanya saja kare-na terlalu banyak gas-gas pemantul tersebut, maka volume sinar matahari yang kembali masuk ke bumi menjadi lebih banyak. Kondisi ini diperparah dengan semakin sedikitnya jumlah pepohonan yang mampu me-nyaring gas-gas ter-sebut dan kemudian mengolahnya kembali menjadi gas yang lebih ramah.
Akibatnya suhu rata-rata permukaan bumi meningkat yang kemudian dikenal dengan istilah Pema-nasan Global atau Global Warming. Jadi nggak salah kalau kamu bilang, “Aduh...gerah banget ya hari ini!”
Data-data hasil penelitian para ahli memang menunjukkan planet bumi terus mengalami peningkatan suhu yang mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Kata Biolin, ahli iklim, dalam kurun waktu 70 tahun terakhir ini, rata-rata bumi mengalami kenaikan suhu hingga 7 derajat celcius.
Bandingkan saja dengan fakta sebelumnya yang menunjukkan kenaikan suhu udara maksimal hanya 5 derajat celsius dalam 10 juta tahun pada saat dunia berada pada jaman es hingga jaman antar es.
Makin panasnya suhu udara di sekitar kita tentu bikin masalah bagi alam dan lingkungan hidup. Contoh gampangnya adalah tidak menentukan jadwal kedatangan musim kemarau dan curah hujan yang tidak menentu dari tahun ke tahun.
Selain itu kita juga melihat makin banyaknya bencana alam dan fenomena-fenomena alam yang cenderung semakin tidak terkendali belakangan ini. Mulai dari banjir, puting beliung hingga semburan gas.
Sadarilah bahwa semua ini adalah tanda-tanda alam yang menunjukkan bahwa planet kita tercinta ini sedang mengalami proses kerusakan yang menuju pada kehancuran!

Penyebab Pemanasan Global
Penelitian yang telah dilakukan para ahli selama beberapa dekade terakhir ini menunjukkan bahwa ternyata makin panasnya planet bumi terkait langsung dengan efek rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas manusia.
International Panel on Climate Change (IPCC) menjelaskan ada beberapa jenis gas rumah kaca yang bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan yang kita alami, dan manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gas rumah kaca tersebut.
Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern serta pembangkit tenaga listrik.
Secara lebih rinci, faktor-faktor penyebab global warming adalah sebagai berikut :

1. Pencemaran Udara
Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karbon Dioksida (CO2), metana (CH4) yang dihasilkan knalpot kendaraan bermotor, cero-bong asap pabrik, agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC).
Setiap gas rumah kaca memiliki efek pemanasan global yang berbeda-beda. Beberapa gas meng-hasilkan efek pemanasan lebih parah dari CO2. Sebagai contoh sebuah molekul metana menghasilkan efek pemanasan 23 kali dari molekul CO2 dalam rentang waktu 100 tahun. Dan ekses ini bisa menggelembung hingga 72 kali lebih kuat dalam rentang waktu 200 tahun.
Jadi semakin banyak metana yang terlepas ke atmosfer berarti makin parah pula pemanasan global yang kita alami. Sudah saatnya kita sebagai penduduk dunia untuk melakukan tindakan nyata untuk menghentikan semua proses yang mengarah pada kehancuran ini.
Sementara itu molekul NO bahkan menghasilkan efek pemanasan sampai 300 kali dari molekul CO2. Gas-gas lain seperti chlorofluorocarbons (CFC) ada yang menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2. Tetapi untungnya pemakaian CFC telah dilarang di banyak negara karena CFC telah lama dituding sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon.

2. Industri Peternakan
Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang peternakan dan lingkungan yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan sektor peternakan adalah penyumbang terbesar bagi krisis lingkungan yang paling serius dalam setiap skala, mulai dari lokal hingga global.
Sektor peternakan telah menyumbang 9 persen racun karbon dioksida (CO2), 65 persen nitro oksida (NO) dan 37 persen gas metana (NH4) yang dihasilkan karena ulah manusia. Gas metana menghasilkan gas rumah kaca 20 kali lebih besar dan nitro oksida 296 kali lebih banyak jauh di atas karbon dioksida.
Peternakan juga menimbulkan 64 persen amonia (NaSO4) yang dihasilkan karena campur tangan manusia sehingga mengakibatkan hujan asam. Selain itu industri peternakan juga telah menjadi penyebab utama dari kerusakan tanah dan polusi air.
Aktifitas pemeliharaan ayam, sapi, babi, dan hewan-hewan ternak lainnya menyumbang 18 % penyebab emisi gas rumah kaca. Di sisi lain, mobil, sepeda motor, truk-truk besar, pesawat terbang, dan semua sarana transportasi lainnya hanya menyumbang 13% emisi gas rumah kaca.
Saat ini peternakan menggunakan 30 persen dari permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan untuk menanam maka-nan ternak.
Menurut laporan Stein-feld, pengarang senior dari Organisasi Pangan dan Pertanian, peterna-kan adalah “penggerak utama dari penebangan hutan …. kira-kira 70 persen dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak.
Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira 20 persen dari padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang berlebihan, pemadatan dan erosi.
Peternakan juga bertanggung jawab atas konsumsi dan polusi air yang sangat banyak. Di Amerika Serikat sendiri, trilyunan galon air irigasi digunakan untuk menanam pakan ternak setiap tahunnya. Sekitar 85 persen dari sumber air bersih di Amerika Serikat digunakan untuk itu. Ternak juga menimbulkan limbah biologi berlebihan bagi ekosistem.

Konsumsi air untuk menghasilkan satu kilo makanan
dalam pertanian pakan ternak di Amerika Serikat

                                                1 kg                               Air (liter)

                                                Daging sapi                 1.000.000
                                                Ayam                          3.500
                                                Kedelai                        2.000
                                                Beras                           1.912
                                                Gandum                      900
                                                Kentang                       500

Selain kerusakan terhadap lingkungan dan ekosistem, industri ternak sama sekali tidak hemat energi. Untuk memproduksi satu kilogram daging, telah menghasilkan emisi karbon dioksida sebanyak 36,4 kilo.
Sedangkan untuk memproduksi satu kalori protein, kita hanya memerlukan dua kalori bahan bakar fosil untuk menghasilkan kacang kedelai, tiga kalori untuk jagung dan gandum; akan tetapi memerlukan 54 kalori energi minyak tanah untuk protein daging sapi!

3. Perusakan Hutan
Hutan sangat penting bagi kehidupan di muka bumi. Di antara semua ekosistem, hutan adalah ekosistem terkaya – meliputi hanya delapan persen dari permukaan planet ini dan merupakan rumah bagi dua pertiga spesies tumbuhan dan hewan darat. Jutaan orang bergantung secara langsung pada hutan untuk keperluan makanan, air, obat-obatan dan bahan-bahan dasar lainnya.
Bagi mereka, hutan mencerminkan budaya dan cara hidup. Di negara-negara berkembang, satu milyar penduduk dunia termiskin menggantungkan sebagian penghidupan mereka pada hutan, dan 350 juta penduduk yang hidup di pinggiran hutan menggantungkan penghidupan dan keselamatan mereka pada hutan.
Hutan juga penting sebagai pengatur iklim global dan pola-pola cuaca, yang merupakan sistem-sistem penting dari lingkungan hidup yang mendukung kehidupan di atas Bumi.
Banyak dari hutan alam dunia telah rusak parah atau bahkan hilang sama sekali. Manusia menghancurkan hutan dengan kecepatan luar biasa. Wilayah seukuran lapangan bola ditebang habis tiap dua detiknya.
Separuh wilayah hutan yang hilang dalam 10.000 tahun terakhir punah kurang dari 80 tahun yang lalu. Sebagian besar pengrusakan hutan ini terjadi dalam 30 tahun terakhir.
Hal ini mengaki-batkan penyusutan dan kepunahan kea-neka-ragaman hayati terbesar di atas bumi dan dengan demikian menghancurkan kehidupan jutaan orang yang bergantung pada hutan.
Kecepatan kepunahan spesies tumbuhan dan hewan kurang lebih seribu kali lebih cepat dari masa sebelum keberadaan manusia. Para ahli mengatakan bahwa Bumi sedang berada pada tahap kepunahan besar keenam dan laju kepunahan akan meningkat sepuluh kali lipat pada tahun 2007.

4. Kesalahan Cara Pengolahan Sampah
Produksi sampah di Indonesia sebanyak 167 ribu ton/hari yang dibuang mampu mem-produksi gas metan sebanyak 8.800 ton/hari pada tahun 2008. Itu dihasilkan dari 220 juta jiwa jumlah pen-duduk Indonesia atau produksi sampah 800 gram/hari/orang.
Dengan volume sebesar itu, sampah-sampah tersebut menghasilkan emisi metan sebesar 745,2Gg (giga gram) sehingga mempunya konstribusi terhadap kerusakan lapisan ozon.
Kondisi tersebut diperparah dengan metode pengelolaan sampah yang masih menggunakan paradigma lama, yakni kumpul-angkut-buang. Pembakaran sampah dengan insinerator pun dianggap hanya memindahkan masalah ke pencemaran udara.
Sampah yang tak dikelola dengan baik justru akan menimbulkan masalah yang serius bagi manusia. Contohnya perilaku masyarakat yang suka membuang sampah ke sungai bisa mengakibatkan pendangkalan yang berujung pada banjir.
Pun demikian dengan tumpukan sampah juga menjadi sumber penyakit yang berbahaya bagi manusia yang merusak kelestarian alam. Misalnya sampah plastik tidak bisa diurai dengan cepat. Membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk mengurainya. Hal inilah yang membuat tingkat pencemaran lingkungan akibat pengelolaan sampah ibarat kanker sudah memasuki stadium IV.
Menurut Pengamat lingkungan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof Sudharto P Hadi, selain menerapkan pola pengelolaan sampah yang baik di TPA, misalnya dengan sistem sanitary renville, penanganan sampah di sektor hulu juga harus dilakukan agar seimbang.
“Penanganan sampah di sektor hulu dapat dilakukan dengan langkah `reuse, reduce, dan recycle` (3R) untuk membatasi debit sampah yang akan terbuang ke hilir,” katanya.
(Luddy Eko Pramono, Buku Cintai Tanahmu : Kasihi Airmu)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar