Sabtu, 03 Januari 2015

Dari Renomencil, Lumpur Itu Bermula

Dari Renomencil, Lumpur Itu Bermula
By : Luddy Eko Pramono


KAWASAN yang tak seberapa luas itu sebenarnya berada di dalam wilayah Desa Renokenongo, tapi warga setempat biasa menyebutnya Renomencil. Nama baru itu muncul setelah pembangunan jalan tol Surabaya - Gempol pada 1980-an membuat areal itu terpencil dari permukiman utama Desa Renokenongo. Renomencil terletak di sebelah barat jalan tol, sementara permukiman utama warga Desa Renokenongo terletak di sisi timur-nya.
            Di Renomencil, Lapindo Brantas Inc. melakukan pemboran Sumur Banjar Panji 1 sejak Maret 2006. Tanah itu memang tak terlalu produktif. Pasalnya si pemilik tanah enggan mengolahnya sebagai areal pertanian lantaran adanya batas fisik berupa jalan tol tadi. Dan warga setempat tak pernah tahu ada aktivitas pengeboran minyak dan gas bumi disana karena memang tak pernah ada pemberitahuan apalagi sosialisasi dari pihak terkait. Sepengetahuan mereka, lahan tersebut dipakai untuk peternakan ayam dan kandang kuda.
            Namun rahasia itupun tersingkap kala diketahui adanya asap putih yang menyembur dari rekahan tanah yang berada sekitar 50 meter dari lokasi pengeboran milik Lapindo Brantas Inc, Minggu,  28 Mei 2006, sekitar pukul 22.00 wib.
            Semburan gas hidrogen sulfida (H2S) bercampur dengan air dan lumpur yang bersuhu sekitar 70 derajat celcius itu cukup banyak sehingga bisa menggenangi areal di sekitar lokasi pengeboran tersebut. Tujuh jam kemudian, sekitar pukul 5 pagi (29/5) sebuah ledakan keras keluar dari mulut lubang semburan gas dan lumpur tersebut. Sejak saat itu lokasi pengeboran langsung ditutup petugas dari Polsek Porong, selain itu areal sekeliling areal tersebut juga telah diberi garis polisi.
            Itulah awal bencana yang kemudian dikenal dunia dengan nama luapan lumpur Sidoarjo. Namun di awal kemunculannya, mata publik belum sepenuhnya fokus pada kejadian tersebut. Perhatian masyarakat masih tersita kejadian gempa di Yogyakarta berkekuatan 5,9 skala richter yang terjadi pada waktu yang bersamaan.
              Hanya warga desa Renokenongo saja yang memperhatikan peristiwa tersebut. Mereka begitu ‘takjub’ melihat lumpur panas yang menggenangi areal persawahan dan rawa-rawa disana. Luapan lumpur itu bahkan mampu membuat tetumbuhan yang ada disekitarnya, diantaranya pohon sengon, pisang, dan bambu serta rumput alang-alang langsung kering kerontang. Ikan dan bekicot di rawa-rawa juga mati mengambang. Selain itu bau seperti amoniak tercium hingga radius 500 m dari titik semburan.
            Bahkan keesokan harinya, sumber semburan lumpur pun bertambah. Dari satu titik menjadi dua titik lalu berkembang hingga menjadi enam titik sekaligus. Sebagian diantaranya berada di areal persawahan dan bahkan tepat di bagian belakang rumah warga desa Renokenongo. Tapi berikutnya semburan liar dari titik-titik itupun berhenti dan terpusat dari lubang pertama dengan debit antara 50 ribu meter kubik per hari hingga mampu menggenangi sawah dan rawa seluas lebih dari 2 ha.
            Tanggul-tanggul pun segera dibangun untuk untuk menahan laju lumpur menuju areal pemukiman warga. Tanggul serupa juga didirikan di sepanjang sisi ruas jalan tol Surabaya – gempol, khususnya di Km 38 dan 39 mengingat ketinggian tumpukan lumpur sudah melebihi titik nol jalan.
            Luapan lumpur kian tak bisa dikendalikan. Per 5 Juni di tahun itu, 188 KK atau 725 penduduk Dusun Siring Tangunan dan Dusun Renomencil terpaksa mengungsi ke Balai Desa Renokenongo, Pasar Baru Porong atau ke rumah-rumah sanak famili yang tersebar di sejumlah tempat.
            Kian hari, areal yang terendam luapan lumpur itupun kian luas. Bukan hanya daerah pemukiman warga namun juga lumpur juga mulai menggenangi areal persawahan bagian selatan lokasi semburan yang berbatasan dengan Desa Jatirejo.
Dan tentu saja jumlah penduduk yang diungsikan pun juga bertambah banyak setelah tanggul-tanggul penahan lumpur disana tidak mampu lagi menahan debit lumpur yang semakin membesar.

Rumah dan Sawah Terbenam Lumpur
Dan di hari itu, lumpur panas mulai menggenangi areal pemukiman di Kelurahan Siring, Jatirejo dan Desa Kedungbendo. Keesokan harinya, PT Jasa Marga pun memutuskan untuk menutup ruas jalan mulai dari gerbang tol Porong hingga Gempol. Pertimbangannya, luapan lumpur tersebut telah menganggu pengguna jalan, baik akibat luapan lumpurnya, genangan air maupun bau menyengat yang ditimbulkannya.
Pada bulan Agustus 2006, luapan lumpur ini telah menggenangi sejumlah desa/kelurahan di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin. Tak kurang 10.426 unit rumah dan 77 unit rumah ibadah terendam lumpur. Akibatnya, lebih dari 25 ribu jiwa warga setempat diungsikan ke lokasi yang aman.
Adapun luasan areal produktif yang tak lagi bisa dikelola adalah lahan tebu seluas 25,61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan Kedungcangkring. Juga areal persawahan padi seluas 172,39 ha di Siring, Renokenongo, Jatirejo, Kedungbendo, Sentul, Besuki dan Pejarakan di Kecamatan Jabon. Begitu juga dengan 1.605 ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi dan 7 ekor kijang.
Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1.873 orang tenaga kerja yang terkena dampak lumpur ini. Empat kantor pemerintah juga tak berfungsi dan para pegawai juga terancam tak bekerja. Tidak berfungsinya sarana pendidikan (SD, SMP), Markas Koramil Porong, serta rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon).
Memasuki akhir September 2006, Desa Jatirejo Wetan termasuk dusun Jatianom, Siring Tangunan dan Kedungbendo, tenggelam akibat tanggul penahan lumpur di Kelurahan Siring dan Renokenongo kembali jebol.
6 Desember 2006, Perumtas I dan II tergenang lumpur dengan ketinggian yang beragam. Di laporkan lebih dari 2000 jiwa harus mengungsi ke Pasar Baru Porong.  Dan di awal Januari 2007, Perumtas I dan II sudah terendam seluruhnya.
Memasuki April 2007, lumpur dan air mulai merendam Desa Ketapang bagian Timur akibat luapan lumpur yang bergerak ke arah Barat menuju jalan raya Surabaya Malang gagal ditahan oleh tanggul-tanggul darurat di perbatasan antara desa Kedungbendo dan Desa Ketapang. Dilaporkan lebih dari 500 orang harus mengungsi ke Balai Desa Ketapang.
10 Januari 2008, Desa Ketapang Barat dan Siring Barat terendam air dan lumpur akibat tanggul di sebelah Barat yang berdekatan dengan jalan raya Malang-Surabaya jebol karena tidak mampu menahan lumpur yang bercampur dengan air hujan. Dilaporkan sekitar lebih dari 500 orang mengungsi ke Pasar Porong atau ke sanak keluarga mereka yang terdekat.
Dengan demikian sampai November 2008, terdapat 18 desa yang terendam lumpur, yang meliputi: Desa Renokenongo, Kelurahan Jatirejo, Mindi dan Siring, Desa Kedungbendo, Sentul, Besuki, Glagah Arum, Kedung Cangkring, Ketapang, Pajarakan, Permisan, Ketapang, Pamotan, Keboguyang, Gempolsari, Kesambi, dan Kalitengah.

Meledaknya Pipa Pertamina
‘Kiamat kecil’. Begitu istilah yang dipakai warga di sekitar luapan lumpur Sidoarjo menyebut peristiwa yang terjadi pada Rabu (22/11). Sekitar pukul 20.11 wib, terdengar ledakan yang sangat keras. Suaranya jelas terdengar hingga berkilo-kilo meter, belum lagi semburan api yang membumbung ke langit hingga membuat warga setempat panik dan kontan berhamburan tak tentu arah. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari dari sebuah kejadian yang tak mereka ketahui asal muasalnya.
            Ternyata, suara menggelar itu berasal dari pipa gas berdiamater 28 inci milik PT Pertamina yang pecah dan meledak tepat di bawah tanggul penahan lumpur di sisi selatan jalan tol. Ledakan terjadi akibat gas bertekanan 440 psi (pounds per inch square) bercampur dengan udara (oksigen) keluar dari pipa dan terbakar. Pipa tersebut mengalirkan gas dari lokasi eksploitasi di Pagerungan Madura dan Maleo menuju Gresik.
            Akibatnya tanggul utama penahan lumpur di desa Kedungbendo rusak parah dan tidak mampu menahan laju luapan lumpur. Dari peristiwa tersebut sejumlah desa, diantaranya Desa Kali Tengah dan Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera Kecamatan Tanggulangin, mulai tergenang lumpur.
            Robohnya tanggul penahan lumpur itu juga menyebabkan ruas jalan tol Porong-Gempol, mulai dari KM 37,600 hingga KM 38,600 terendam air dan lumpur panas dengan kedalaman sekitar dua meter.
             Yang lebih menggiriskan, peristiwa tersebut juga menyebabkan 14 orang luka-luka dan 14 orang lainnya tewas baik di tempat kejadian maupun setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Mereka yang menjadi korban jiwa antara lain :
Korban meninggal:
1.    Kapten Inf Afandi (Danramil Balongbendo Sidoarjo)
2.    Kapten Inf Hendro Priyono (Danramil Taman Sidoarjo)
3.    Serda Kapten Indra Pudji (Yon Zipur Kodam V/ Brawijaya)
4.    Serda Hafid Effendi (Yon Zipur Kodam V/ Brawijaya)
5.    Kopral Rofik (Anggota Kodim Sidoarjo)
6.    Bripka Slamet (anggota PJR Tol)
7.    Bripda Fani Dwi Saputra (Patwal Polda Jawa Timur)
8.    Yoesman Eddyanto (karyawan PT Jasa Marga)
9.    Tri Iswandi (karyawan PT Jasa Marga)
10. Stephanus Prasetyo (karyawan PT Jasa Marga)
11. Ir Edy Sutarno (Staf PT Adhi Karya)
12. Hendra Hartawan (Staf PT Adhi Karya)
13. Eko Riyadi (Karyawan PT Adi Guna Bangun)
14. Haryo Riza Ariyanto (Staf PT Adhi Karya)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar