Senin, 12 Januari 2015

RENCANA TUHAN TIDAK PERNAH GAGAL

Ada tiga komponen yang berperan dalam menentukan kesuksesan anak Tuhan di masa mendatang. Yang pertama adalah adanya visi untuk meraih derajat kehidupan yang lebih baik. Berikutnya adalah kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi setiap halangan dan rintangan sebagai bentuk proses untuk meraih kesuksesan tersebut. Dan yang terakhir adalah kemauan untuk mawas diri terkait kebiasaan buruk dari dalam diri yang bisa menghambat pencapaian visi tadi.
            Ketiga kunci meraih sukses tersebut disampaikan Pdt. DR. K.A.M. Jusuf Roni dalam Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang dilaksanakan di Hall Utama Gereja House of Glory Sidoarjo, Rabu (16/7) lalu.
            Dalam khotbahnya dihadapan lebih dari 300 orang jemaat Gereja HoG tersebut, Jusuf Rony mengambil contoh kasus perjuangan hidup Nabi Yusuf sebagaimana tersurat dalam Kitab Kejadian 37 : 5 – 11.
            Gembala Sidang Gereja Kemah Abraham Jakarta tersebut menuturkan, semua kesuksesan diawali dengan adanya visi atau keinginan. Dan visi tersebut haruslah digantungkan setinggi-tingginya tanpa perlu khawatir tidak akan tercapai.
            Tentu, tak mudah meraih visi itu. Banyak halangan dan rintangan yang datang, dan biasanya hadangan itu justru berasal dari orang-orang dekat atau mereka yang ada di sekitar kita. “Biasanya aka nada orang yang iri hingga menimbulkan kebencian pada kita. Jangan khawatir dan jangan menyesal, semakin orang iri dan benci, itu berarti kita berada dalam posisi yang lebih baik daripada mereka,” katanya.
            Berikutnya, kenyataan yang kita hadapi kadangkala justru bertolak belakang dengan visi tersebut. “Maunya kita meraih langit, tapi justru kita berada di dalam lubang yang terdalam. Tapi itu semua adalah bagian dari proses menuju kesuksesan itu tadi,” imbuhnya.
            Ia mencontohkan Yusuf yang bermimpi jadi raja namun ia justru dijerumuskan dalam sumur, dijual sebagai budak bahkan dipenjara. “Yakin saja, bahwa rencana Tuhan tidak akan pernah gagal. Selalu akan ada benang merah yang menuju kearah tujuan hidup tadi, dan itu merupakan bagian dari proses ,” katanya lagi.
            Dan faktor terakhir menuju kesuksesan itu akan berpulang pada diri kita masing-masing. Dimana setiap orang pasti memiliki kebiasaan buruk yang kerap kali menjadi batu sandungan. Karena itu dibutuhkan kemauan dan kerendahan hati untuk melakukan instrospeksi.

            “Memang tidak  mudah dan tidak nyaman untuk mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Tapi itu harus dilakukan kalau memang mau sukses. Jangan salahkan Tuhan dan jangan menunggu orang lain, kita sendiri yang harus mau berubah,” tandas hamba Tuhan yang mahir berbahasa Ibrani itu.*lud

1 komentar:

  1. Setuju,,,,,! saya suka postingan anda. kalau boleh saya tambahkan,,, kesabaran bersepupu dekat dengan keikhlasan,,, dan sebagai sesama insan beragama dalam ajaranku Tuhan lebih melihat pada 'proses' yang kita lakukan bukan pada hasil yang kita peroleh,,,,pohon yang baik akan menghasil buah/panen yang baik,,,,

    BalasHapus