Kamis, 08 November 2018

Menapak Jejak Pabrik Gula Sidoarjo (Bagian 4)


Sidoarjo, Lahan Subur di Delta Sungai Brantas
Ditulis kembali oleh Jaludieko Pramono dari berbagai sumber


Jalan panjang industri gula kristal putih di Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran Kabupaten Sidoarjo yang dikenal sebagai salah satu lumbung penghasil tebu berskala nasional. 
Sebagai kawasan yang terbentuk dari hasil pengendapan material sungai atau yang lebih akrab dengan sebutan delta Kali Brantas, Sidoarjo menjadi wilayah yang subur sehingga cocok untuk menjadi areal pertanian dan perkebunan.
Kondisi ini masih ditunjang dengan curah hujan yang mencapai 2717 mm mampu menyediakan ketersediaan air bagi lahan-lahan pembubidayaan tanaman pangan di wilayah Kabupaten Sidoarjo.
Salah satu bukti sejarah yang masih ada hingga kini adalah Candi Pari di Porong yang dibangun pada jaman Majapahit, tepatnya di tahun 1293 Caka atau 1371 M. Sebagaimana tertulis dalam Kitab Negara Krtagama, candi ini dibangun atas perintah Raja Hayam Wuruk sebagai bentuk ucapan syukur karena menjadikan kawasan di sekitarnya sebagai lumbung pangan bagi kerajaan Majapahit.
Sementara itu, data yang ada di Dinas Pangan dan Pertanian Pemkab Sidoarjo menyebutkan, hingga akhir 2016 lalu luasan lahan yang bisa difungsikan sebagai areal pertanian sebesar 36 ribu hektar, sedangkan yang tergarap aktif baru seluas 22 ribu hektar. Dari jumlah itu 12 hektar diantaranya ditanami padi.
Khusus untuk perkebunan tebu, Bupati Sidoarjo, H. Saiful Ilah, SH., M.Hum saat menghadiri prosesi buka giling di PG Watoe Toelis menyebutkan luasan lahan tebu di Kabupaten Sidoarjo pada 2015 lalu sekitar 5.691 hektar.
Dengan luasan tersebut,  produksi tebu di Kabupaten Sidoarjo tahun 2014 lalu tercatat lebih dari 682 kuintal perhektar.  Dengan rendemen rata-rata sebesar 7,37 %, produksi gula di Kabupaten Sidoarjo tahun lalu rata-rata mencapai 50 kuintal perhektar.
Namun jumlah panenan tebu sekaligus produksi gula tersebut menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun seiring terkeprasnya lahan-lahan perkebunan tebu yang telah beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman maupun industri dan pergudangan. Data terakhir yang Diperoleh dari Dinas Pangan dan Pertanian Pemkab Sidoarjo menyebutkan hingga awal tahun 2017 lalu lahan tebu yang tersisa hanya 4.030 hektar.
Hal serupa juga terjadi di beberapa kabupaten/kota lainnya di Jawa Timur. Dari 38 kabupaten/kota yang ada di Jatim, 35 diantaranya adalah daerah penghasil tebu. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur yang dirilis 19 Juni 2017 mengungkapkan luasan lahan tebu di Jatim pada tahun 2016 mencapai 200.702 hektar yang mampu menghasilkan 1.035.157 juta ton. Luasan lahan itu terus mengalami penyusutan hampir di semua daerah terutama di Probolinggo, Pasuruan, Mojokerto dan juga Sidoarjo.
Tentang hal ini Gubernur Jawa Timur, Soekarwo menyebut, “masyarakat kita itu masyarakat tebu, yang kulturnya tebu.” Jadi wajar jika sebaran areal perkebunan tebu di Jatim ada hampir di seluruh kabupaten/kota di propinsi tersebut.
Karena itu ia berharap ada inovasi kreatif dari pemerintah pusat dan juga dari kalangan intelektual untuk menjaga kultur tersebut tetap lestari dari jaman ke jaman sehingga Jawa Timur tetap menjadi lumbung tebu dan juga gula nasional bahkan kalau perlu dunia.
Caranya dengan memperbaiki teknologi pembudidayaannya sehingga mampu mendongkrak produktifitas lahan. Dengan begitu maka perkebunan tebu akan kembali menjadi ladang garapan yang menarik bagi masyarakat maupun investor. (bersambung)

Sanggar Puspa Kinasih-Sukodono Sidoarjo, medio 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar