Rabu, 20 Juli 2016

KEKRISTENAN DI JAWA (III)

Benih Iman di Tlatah Surabaya
Oleh : Jaludieko Pramono


Desa Wiung Surabaya sekitar tahun 1826-1827, Kyai Dasimah membolak-balik buku tipis yang diterimanya dari Pak Midah. Lalu modin desa Wiung itu mencoba membaca kalimat pertama, “Purwane Ewanggelion saking Yesus Kristus, Putrane Allah……”, (Inilah permulaan tentang Injil Yesus Kristus, Anak Allah).
Dahinya mengernyit, sebelah alisnya ikut terangkat pertanda ada rasa heran yang berkecamuk di benaknya. Lalu iapun meneruskan membaca kalimat selanjutnya dengan suara agak keras supaya kenalan yang membawakan buku itu bisa ikut mendengarkan.
Dan setelah hampir selembar, Kyai Dasimah pun mengatakan bahwa ia sama sekali tak mengerti dengan makna yang tersirat dari suratan kalimat yang baru saja dibacanya itu. Dan iapun meminta agar Pak Midah bersedia meminjamkan buku tersebut padanya selama beberapa hari ke depan.

Permintaan itupun disanggupi. Namun Pak Midah meminta pada rekannya itu untuk menjelaskan makna buku tersebut jika ia telah mengetahuinya. Akhirnya keduanya pun sepakat. Namun sebelum pulang, Kyai Dasimah lebih dulu bertanya, darimana Pak Midah mendapatkan buku tersebut.
Lalu orang Madura penjual sarung keris di pasar Wonokromo, Surabaya itu pun berkisah. Buku itu ia dapatkan dari seseorang yang tak dikenalnya. Perempuan Jawa. Awalnya ia mengaku menolak pemberian itu. Tapi si wanita bersikeras sehingga iapun menerima. Hanya sampai disitu kisah Pak Midah.
Sebenarnya wanita itu adalah istri Johannes Emde, seorang Jerman yang datang ke Indonesia sebagai tentara bayaran VOC. Namun setelah menikahi warga pribumi, iapun berhenti dan memilih menjadi tukang servis arloji.
Pria kelahiran Arolsen, Jerman pada tahun 1774 adalah seorang Kristen yang taat. Di Surabaya ia berjemaat di GPI Surabaya. Sebenarnya ia ingin mengabdikan dirinya dalam kegiatan pekabaran Injil di bumi Hindia Belanda.
Tapi pembatasan yang dilakukan pemerintah kolonial membuat semangatnya sedikit meredup. Meski begitu Emde tetap berusaha untuk menyampaikan kabar baik tentang Kristus pada kaum bumi putera.
Caranya dengan membuat traktat-traktat berbahasa Jawa tentang kekristenan. Selebaran tersebut ditempelkan di tempat-tempat umum seperti pasar, mesjid, perkampungan, dan lain-lain. Dengan begitu, Emde berharap akan ada orang-orang Jawa yang membacanya dan mengalami pertobatan.
Usahanya itu mendapat dukungan dari teman-temannya, terutama peranakan Eropa di Surabaya. Mereka membentuk perkumpulan Kristen yang dipimpin Emde. Namanya ‘Kesalehan Surabaya’. Komunitas ini berobsesi melakukan penyebaran agama Kristen di Jawa.
Gagasan ini terwujud setelah pertemuannya dengan Joseph Kam (1769-1833), seorang misionaris yang tengah dalam perjalanan ke Maluku pada tahun 1814 singgah di Surabaya selama enam bulan.
Bersama beberapa orang jemaat lainnya dan juga dengan dibantu oleh istri dan anak-anaknya, mulailah ia secara rutin mengadakan pertemuan-pertemuan kecil di rumahnya, di warga kampung Bonangan, Ngagel.
Selain menelaah Alkitab, dalam pertemuan-pertemuan tersebut juga didiskusikan cara menyiasati larangan pemerintah kolonial Belanda dalam upaya mengenalkan Injil pada orang-orang Jawa.
Cukup banyak kaum peranakan bahkan Eropa Totok yang tertarik dengan misi kelompok yang berada di luar organisasi zending itu. Salah satunya adalah seorang pemilik perkebunan berkebangsaan Swiss bernama Gunsch yang memiliki tanah persil di Sidokare.
Ia juga sempat berkenalan dengan Coenraad Lourens Coolen, seorang sinder blandhong atau pengawas penebangan kayu di Wirosobo atau Mojoagung saat ini. Rupanya setelah bertukar pikiran sejenak, Coolen pun tertarik dengan misi dan visi Emde.
Gerakan itulah yang dilakukan Coolen saat ia membuka hutan Ngoro, Jombang dan menjadikannya sebagai lahan pertanian sekaligus perkampungan bagi para pekerjanya. Meski tidak dibekali ilmu teologi yang memadai, namun pria peranakan Belanda itu berani menyampaikan kabar keselamatan itu pada orang-orang Jawa yang sebagian besar beragama Islam dan penganut aliran kejawen.

Ngangsu Kaweruh ke Ngoro
Kyai Dasimah membawa buku itu ke surau dekat rumahnya. Disana ia membahas isi buku tipis itu dengan beberapa temannya. Mereka bergantian membaca kata demi kata yang tertulis disana.
Namun hingga semuanya terbaca, tak juga mereka menangkap maknanya. Yang timbul justru keheranan karena di buku itu disebutkan tentang Allah yang memiliki Anak bernama Yesus Kristus.
Pada suatu hari, salah seorang penduduk Wiung yang bernama Sadimah menghadiri acara pernikahan di Desa Wonokitri. Saat pembacaan doa, Pak Sadimah mendengar satu nama yang selama ini pernah ia dengar saat berdiskusi dengan Kyai Dasimah.
Ia mendengar si pendoa menyebut nama Yesus Kristus Gusti Kawula. Segera ia hampiri pemimpin doa dan menanyakan dari mana doa itu berasal. Ternyata orang itu pernah beberapa bulan tinggal dan bekerja di Ngoro. Dan dari situlah ia mendapatkan doa itu.
Informasi tersebut langsung ia sampaikan pada Kyai Dasimah. Dan demi menuntaskan keingintahuannya, merekapun sepakat untuk pergi ke Ngoro. Tentu saja buku itu mereka bawa serta.
Disana mereka bertemu Coolen yang dipanggil pengikutnya dengan sebutan Kyai Kolem. Mereka utarakan maksud kedatangannya yang segera mendapat sambutan gembira dari sang tuan rumah.
Dengan tekun Kyai Kolem menyingkap makna yang tersurat dalam buku itu pada orang-orang Wiung. Ia menjelaskan buku tersebut adalah Kitab Markus yang telah diterjemahkan Gottlob Brückner dalam bahasa Jawa.
Selama beberapa hari tinggal di Ngoro, Kyai Dasimah dan teman-temannya ngelmu Kristen. Termasuk menghafalkan seluruh rapalan, gaiban, dan pepujan yang diajarkan Kyai Kolem dan mengikuti seluruh kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pasamuwan Kristen Jawa di Ngoro.
Hasil akhir pembelajaran itu, mereka mengaku percaya pada Ketuhanan Yesus. Tak ada baptisan. Cukup dengan mencatat nama-nama dalam buku daftar anggota jemaat pasamuwan Kristen Jawa Ngoro.
Setelah dirasa cukup, mereka pun kembali ke Wiung. Ilmu yang mereka dapatkan di Ngoro mereka praktekkan di desa asalnya. Mereka sampaikan pula ajaran itu pada orang-orang di sekitarnya, termasuk pada Pak Midah.
Benih iman Kekristenan telah disebar, tertanam, bertumbuh dan berbuah. Dan dari Wiunglah terbentuk sebuah persekutuan Kristen pribumi di tlatah Surabaya untuk pertama kalinya.

Memang tak ada persinggungan langsung antara komunitas kelompok ini dengan Johannes Emde. Tapi berawal dari usahanyalah Injil dikabarkan dan diterima kaum pribumi di Jawa. Pada 1859, Johannes Emde menghembuskan nafas terakhirnya. Jasadnya dikuburkan di salah satu pemakaman Kristen di Surabaya.*(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar