Senin, 18 Juli 2016

KEKRISTENAN DI JAWA (2)

Dari Ngoro, Kristus Dikumandangkan
Oleh : Jaludieko Pramono        


Ngoro adalah sebuah wilayah yang kini berada di Kabupaten Jombang. Konon, di masa kejayaan Majapahit, tempat ini sudah berkembang menjadi desa yang cukup ramai. Namun seiring dengan runtuhnya permata nusantara itu, Ngoro pun ditinggalkan penduduknya yang menjadi daerah kosong yang tak berpenghuni.
Berabad kemudian, Ngoro kembali menjadi hutan belantara. Sebuah kawasan pedalaman yang sepi dan menakutkan hingga tak tersentuh program pembangunan pemerintah kolonial Belanda waktu itu.
Tapi penilaian itu tak berlaku bagi Coenraad Lourens Coolen, seorang sinder blandhong atau pengawas penebangan kayu di Wirosobo atau Mojoagung pada saat ini. Menurutnya, Ngoro adalah kawasan yang potensial untuk kawasan pertanian karena tanahnya yang subur dan kaya akan air.

Meskipun bernama Eropa, namun Coolen justru sangat ‘njawani’. Nama itu didapatkan dari ayahnya, seorang imigran Belanda di Rusia yang kemudian menginjakkan kaki di Indonesia sebagai tentara bayaran VOC. Sedangkan ibunya adalah seorang ningrat Mataram. Coolen sendiri dilahirkan di Ungaran tahun 1785.
Ia bukan Kristen yang taat, apalagi seorang yang memang terdidik dan terlatih di bidang ini. Menariknya, justru dari Coolen lah orang-orang Jawa pertama kali mengenal Kristus, hingga akhirnya kekristenan menyebar ke seluruh Jawadwipa.

Babat Alas
Kisahnya bermula saat ia membuka hutan Ngoro usai mendapatkan ijin dari pemerintah Kolonial Belanda. Dalam surat resmi yang terbit pada 3 Juli 1827, Coolen diberi hak pengelolaan lahan seluas 2.000 bau (1.420 ha) dengan waktu kontrak selama 30 tahun. Untuk itu ia diwajibkan membayar uang sewa tanah sebesar 2.000 gulden.
Tak berapa lama, hutan Ngoro pun berubah wujud menjadi ladang-ladang pertanian yang dikelola Coolen. Pekerjanya adalah kerabat istrinya dan pendatang dari Wirosobo, daerah pinggiran sungai Brantas, Kediri bahkan Madura.
Usai perang Jawa, penduduk Ngoro pun bertambah dengan kedatangan bekas prajurit dan perwira pasukan Diponegoro yang melarikan diri dan bersembunyi dari kejaran tentara Belanda.
Philip van Akkeren dalam bukunya yang berjudul Dewi Sri dan Kristus: Sebuah Kajian tentang Gereja Pribumi di Jawa Timur, mencatat : “sampai dengan tahun 1834 saja, di Ngoro telah ada 101 orang pria dan 122 orang perempuan, 28 orang pemuda yang berusia di atas 15 tahun, serta 12 buah pedukuhan (desa kecil)”.
Orang-orang inilah yang menjadi sasaran penginjilan Coolen yang dimulai sejak 1835. Ia memposisikan dirinya sebagai guru Injil yang menggunakan media-media yang akrab dengan dunia masyarakat Jawa. Antara lain tembang, wayang, gamelan dan berbagai ritual dalam pertanian.
Misalnya, saat memulai masa bercocok tanam Coolen menancapkan mata bajak ke dalam tanah sambil menyanyikan tembang pujian tradisional yang ditujukan kepada Gunung Semeru, Dewi Sri, dan – sebagai tambahan dari Coolen – Yesus. Tembang tersebut beserta terjemahan bebasnya, adalah demikian:

Oh, Gunung Semeru kang winarni, tetunggule Pulo Jawi.
Tinetepna anggen kula tani, singkal kang kinarya pembikake siti, sitine kagawe pera.
Buntutan kinarya pangukuh, cacadan kang anggendoli.
Raden Pancurat kang duwe kwasa.
Pecut penjeplake rajakaya.
Jaka galeng kang den borehi,
mbok rondha garu kang ngasta.
Yaiku karemane mbok Sri Sadono.
Kaidenan Gusti Yesus kang luwih kwasa.

Oh, Gunung Semeru yang indah engkau adalah yang tertinggi di Pulau Jawa.
Inilah kidung persembahan kami.
Berkatilah kiranya pekerjaan kami sebagai petani,
berkati pula bajak untuk membelah dan membalikkan tanah kami,
sehingga tanah kami menjadi gembur.
Berkatilah mata bajak yang menggaruk tanah kami,
berkati juga gagang kayunya, yang kepadanya kami berpegang erat.
Oh, Sang Air pemberi kehidupan, kiranya Engkau membasahi tanah kami.
Kiranya bunyi pecut kami berdesing dengan keras, agar memacu lembu.
Tanggul dan pematang telah kami siapkan,
begitupun garu yang akan meratakan tanah kami.
Kesemuanya (kesuburan) itulah yang menyenangkan hati Dewi Sri.
Dan itu semua adalah berkat kuasa Tuhan Yesus yang tiada tara.

Setelah Coolen melakukan prosesi ini penduduk mengikuti hal yang sama, yaitu membajak sambil menaikkan tembang secara bersama-sama. Dengan itu mereka secara tidak langsung telah diperkenalkan dengan Kristus, walaupun hanya sepintas saja.
Tak hanya itu, setiap sore dia mengajak orang-orang tua untuk berdiskusi mengenai ilmu Jawa di pendopo rumahnya. Apabila perundingan sudah pada puncaknya, oleh Coolen pembicaraan tersebut dibelokkan ke Injil Kristus.
Olehnya diterangkan, bahwa Injil Kristus berada di atas segala ilmu. Diceritakan pula tentang kedatangan Yesus Kristus ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Lama-kelamaan orang-orang yang ingin mendengarkan ceritanya semakin banyak, sehingga bangsal Coolen setiap sore penuh sesak (Purwaningsih, 2006:8).
Masyarakat Ngoro memahami agama Kristen sebagai sebuah ilmu baru yang memberikan rasa aman, nyaman, penuh damai sejahtera sekaligus menjanjikan keselamatan di dunia dan akhirat.

Ibadah Ala Coolen
Seiring dengan bergulirnya waktu, jumlah pengikut ilmu Kristen tersebut semakin banyak. Jika sebelumnya, kumpulan tersebut hanya sebatas ‘perguruan’, berikutnya berkembang  menjadi persekutuan.
Karena itu Collen mendirikan sebuah rumah ibadah yang disebutnya sebagai masjid Kristen yang memiliki imam, pekerja, peraturan-peraturan, ritual dan tentu saja jemaat. Disana ia menggelar kebaktian-kebaktian setiap hari Minggu pagi.
Coolen bergerak sendiri diluar control misionaris NZG di Surabaya. Lembaga Pekabaran Injil itu bahkan tak mengira adanya kelompok jemaat Kristen di Ngoro yang dipimpin seorang indo yang berani mengajarkan doktrin Kristen tanpa memiliki pemahaman teologi yang memadai.
Bahkan materi pengajarannya pun Coolen melakukan dengan pola inkulturasi, yakni dengan mengawinkan dogma-dogma Kristen dengan ritual-ritual kejawen yang ditekuninya.
Dalam tata ibadahnya, Coolen mengajar jemaatnya untuk mengucapkan doktrin-doktrin Kristen dalam bentuk rapalan (mantra) yang bermaterikan Pengakuan Iman Rasuli (rapal pengendelan), Doa Bapa Kami (Rapal Pujian) dan 10 Perintah Allah (Rapal Sedasa Prekawis).
Rapalan itu dibacakan secara bergantian antara dirinya sebagai pemimpin ibadah dengan jemaat. Ia tak peduli apakah jemaat memahami kata-kata yang diucapkannya. Yang penting adalah bagaimana kata-kata tersebut diucapkan dengan nada dan irama tertentu atau juga secara berbisik sehingga seakan-akan memiliki daya magis.

Imam : Sun angandel Allah Sawiji
Umat : La ilah ha il ‘llah, Yesus Kristus ya Rohullah
Imam : Kang nglangkungi kwasanipun
Umat : La ilah ha il ‘llah, Yesus Kristus ya Rohullah
Imam :Kang weged nyipta langit lan bumi
Umat : La ilah ha il ‘llah, Yesus Kristus ya Rohullah

Begitulah seterusnya hingga seluruh Pengandelan selesai dibacakan. Kemudian dzikiran dilanjutkan dengan mengucapkan kencengan secara bersama-sama; “La Yesus, la Kristus, la Yesus, la Kristus, la Yesus, la Kristus……”, dan seterusnya. Hal ini dilakukan sambil menggoyang-goyangkan badan dan mengangguk-angguk layaknya dzikir yang dilakukan oleh umat Muslim.
Setelah kencengan dianggap cukup, maka bersama-sama mengucapkan gaiban, yang kutipannya sebagai berikut :

Giranga padha atinira sadaya.
Rohing Allah pinanjing mring manungsa.
Ginawe kurban, kurbane alam donya.
Minangka tebusane wong duraka merga bapakira Adam lan Kawa.
O, Allah, tobata duraka kawula.
Kasapuran Gusti Yesus kang kwasa.
Margane sapura awak duraka,
kaidenan Gusti Yesus kang luwih kwasa.

Bergembiralah hatimu semua.
(Karena) Roh Allah masuk ke dalam manusia.
(Dia) dijadikan kurban, kurban bagi dunia.
Sebagai tebusannya orang berdosa, lantaran bapak kita, Adam dan Hawa.
O, Allah, ampunilah dosa kami.
Pengampunan dari Tuhan Yesus yang berkuasa.
Dosa kami diampuni,
oleh karena karunia Tuhan Yesus yang berkuasa.

Setelah itu Coolen membaca Kitab Suci dan diterangkan dengan singkat sekali. Selanjutnya bersama-sama menyanyikan pepujan, yakni tembang yang syair dan iramanya dibuat sendiri oleh Coolen.
Usainya kebaktian di gereja tidak berarti kegiatan keagamaan berakhir. Setelah itu para jemaat berkumpul di pendopo rumah Coolen. Di sini, mereka mendengarkan khotbah. Pada kesempatan itu biasanya Coolen menyentuh masalah-masalah etika kehidupan masyarakat sebagai suatu persekutuan Kristen.
Selanjutnya seluruh rangkaian ibadah ditutup dengan hiburan berupa pementasan wayang yang memainkan cerita-cerita dari Kitab Suci maupun dari kisah-kisah yang umum dikenal dalam dunia pewayangan.

Konsepsi yang Meruntuhkan
Coolen memiliki konsepsi yang berbeda terkait doktrin Kristen yang diajarkannya. Menurutnya, kekristenan Jawa tak perlu sama dengan ‘Kristen Londo’. Kristen Jawa memiliki sistem organisasi, tata ritual, maupun ajaran yang kesemuanya berdiri atas kebiasaan-kebiasaan yang hidup dan sudah dikenal baik di dalam religiusitas masyarakat Jawa pada saat itu.
Salah satu bentuknya, Coolen tidak mengizinkan jemaatnya dibaptis dan mengadakan perjamuan kudus. Ia khawatir, usai dibaptis dan biasanya mendapatkan nama baptis, orang-orang Kristen Jawa akan menjadi sombong, berbusana serta bertingkah laku seperti layaknya orang Eropa dan meninggalkan akar budayanya.
Hal itu tersirat dalam surat yang ia kirimkan pada temannya, seorang jemaat GPI Surabaya yang bernama Johannes Emde. “Keselamatan jiwa tidak tergantung dari baptis. Orang Kristen Jawa harus tetap menjadi orang Jawa. Baptis tidak perlu diberikan kepada mereka, agar mereka tidak merasa menjadi Belanda, dan meninggalkan kejawaan mereka. Mereka harus mempertahankan identitas sebagai orang Jawa”.
Konsepsi inilah yang ditolak oleh pengikut Coolen. Sebagian dari mereka memilih untuk dibaptis di GPI Surabaya secara diam-diam pada 25 September 1844. ‘Pelanggaran’ ini membuat Coolen marah dan mengusir mereka yang dianggap mengkhianati ajarannya dari tanah Ngoro.
Tapi gelombang ‘pengkhianatan’ itu terus berlanjut hingga semakin banyak pula orang-orang yang terusir. Akibatnya keadaan Coolen dan Persekutuan Ngoro semakin menyedihkan.
Orang-orang Kristen yang tersisa di Ngoro hanya tinggal beberapa orang saja. Terhadap mereka ini pun Coolen masih menaruh curiga dan rasa tidak percaya. Karena sikap ‘paranoid’ Coolen itu, jemaat yang tersisa akhirnya memutuskan untuk hengkang menuju Desa Tebel dan Mundusewu yang tidak beberapa jauh dari Ngoro.
Fenomena itu membuat wibawa Coolen semakin merosot. Ia seperti raja tanpa tahta. Menjelang akhir masa kontrak tanahnya, Coolen pun menyadari kesalahannya dan menginjinkan jemaatnya yang masih setia di Ngoro untuk dibaptis.
Akhirnya pada tahun 1853, dari tiga kali pelaksanaan sakramen baptisan, sebanyak 381 orang Kristen dibaptiskan di Ngoro. Kali ini Coolen meminta agar mereka yang telah dibaptis tidak perlu pergi dari Desa Ngoro yang sudah sepi penduduk itu.
Tahun 1854, kontrak Coolen atas tanah Ngoro berakhir. Ia pun menjadi seorang warga biasa yang tidak lagi memiliki kekuasaan atas penduduk Ngoro serta jemaat yang dibangunnya. Coolen wafat pada usia 88 tahun serta dimakamkan di Ngoro pada tanggal 2 Juli 1873.
Oleh NZG jemaat persekutuan Ngoro yang semakin menyusut itu akhirnya digabung dengan Persekutuan Kertorejo (desa tetangga Ngoro) yang memang memiliki jemaat yang jauh lebih banyak. Dengan demikian, sejak saat itu, Persekutuan Ngoro menjadi ‘pos PI’-nya Persekutuan Kertorejo.
Selama kurang lebih sekitar dua puluh tahun semenjak kematian Coolen, kelompok ini masih mempertahankan kelangsungan ‘ilmu Kristen’-nya Coolen. Namun, lama-kelamaan kelompok ini tidak bertahan juga.
Semenjak itu, kekristenan yang Coolen ajarkan sudah tidak ada yang mempraktikkan lagi. Tikar digantikan oleh kursi. Rapalan diganti dengan katekisasi doktrin Kristen Barat dan olah batin berubah menjadi olah nalar.
Harmonisasi nada-nada pentatonik yang biasa terdengar dari dzikiran, tembang-tembang gaiban dan pepujan, juga sudah berganti dengan lagu-lagu rohani Eropa yang menggunakan nada-nada diatonik.

Sang Pemula
Coolen memang tidak pernah belajar teologi. Ia juga tidak meninggalkan catatan apapun mengenai pemikiran-pemikiran teologisnya. Begitu juga halnya dengan ajaran-ajaran yang ia tanamkan dalam persekutuan Ngoro tak pernah dituliskan. Namun ia harus tetap diakui sebagai orang yang pertama kali menancapkan panji-panji Kristus di jiwa warga bumiputera.
Terlepas dari kontroversi ajarannya, Coolen telah berhasil menanamkan Injil di tanah Jawa dengan cara memberinya wujud lokal. Baik Berkat tangan Coolen, orang Jawa tidak menganggap Injil sebagai sesuatu yang asing, sehingga kabar tentang Kristus dapat diterima dan dimaknai secara alamiah.
Akibat pendekatan Coolen kepada kebudayaan Jawa, beberapa komunitas Kristen yang dipimpin para penginjil Jawa bermunculan. Diantara orang-orang Kristen Jawa itu adalah Yakobus Singotruno yang menjadi salah satu pendiri kelompok jemaat di Sidokare, Sidoarjo. Sebagian diantara jemaat Ngoro yang sempat bergabung di Sidokare juga mendirikan gereja yang kini dikenal dengan nama GKJW Mlaten-Krembung.
Ada pula nama Kiai Abisai Ditotruno dan Paulus Tosari yang mbabat alas Kracil dan kemudian mendirikan jemaat di Mojowarno, Jombang yang hingga kini masih eksis dengan GKJW Mojowarno yang melegenda.
Dari situ kekristenan terus berkembang. Orang-orang Mojowarno melakukan perpindahan demi perpindahan hingga membuat kekristenan pribumi menyebar ke seluruh pelosok Jawa Timur.
Ada yang babat alas di kaki Gunung Kawi, jadi Desa Peniwen, di Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Ada pula Desa Suwaru, Sitiarjo, Rowotrate, Tambakasri, kemudian Pujiharjo dan Tempursari yang juga berada di Malang.
Di kawasan Tempursari, Kabupaten Lumajang, desa-desa nasrani ala GKJW dibuka pada 1900-an, yaitu Tunjungrejo. Di Kabupaten Jember ada kampung Sidomulyo, Sidoreno, Sidorejo, dan Rejoagung. Di kawasan Banyuwangi dan Situbondo ada Desa Purwodadi, Purwosari, Tulungrejo, Wonorejo, dan Ranurejo.
Di Jombang muncul pedukuhan Kristiani lain: Kertorejo dan Bongsorejo. Di Mojokerto ada Segaran (Dlangu). Di Sidoarjo ada kampung dan pasamuwan Sidokare yang kemudian pindah ke kawasan Luwung, Kecamatan Balongbendo, dan sebagian di Desa Wonomlati, Kecamatan Krembung. Karena itu, di Sidoarjo ada dua gereja tua, yakni GKJW Mlaten dan GKJW Luwung.

Para leluhur GKJW juga babat alas di Maron (Blitar), Tumpuk (Tulungagung), Segaran, Sindurejo, Sidorejo, Sambirejo, Tunglur, Jatiwringin, Wonoasri (Kediri), Aditoya (Nganjuk), Ketanggung, dan Wotgalih (Ngawi).*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar