Selasa, 03 Maret 2015

Etnohidrolika, Mitos Yang Menjaga Kelestarian Air



AIR merupakan sumber daya alam yang memiliki arti penting bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Ada macam-macam pendekatan yang dilakukan para ahli dan pemerintah untuk mengatasi masalah air. Ada yang menggunakan pendekatan ilmu hidrologi, hidrolika, ekohidrolika dan sosiohidrolika.
Namun Kepala Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), Dr Setyo S Moersidik memiliki konsep tersendiri dalam hal pemanfaatan, pengolahan serta pelestarian sumber daya air.
Konsep baru itu ia beri nama  Etnohidrolika yang berusaha mengungkap upaya pemanfaatan, pengelolaan air, serta upaya pelestariannya dari perspektif budaya yang berkembang di suatu daerah.
Pengembangan ilmu etnohidrolika yang melibatkan pakar lingkungan, ahli sejarah, dan akademisi tata kota itu merupakan salah satu riset unggulan UI pada tahun 2009 lalu.
Adhisa Putra, kandidat doktor ilmu lingkungan UI, menyatakan dalam kacamata ilmu lingkungan, nilai-nilai, pengetahuan, dan tradisi yang terangkum dalam suatu produk budaya dapat memiliki arti penting untuk menjaga kelestarian suatu ekosistem.
Misalnya suatu produk budaya yang masih tersimpan di dalam folklore di Indonesia justru berfungsi menjaga keberlanjutan sumber daya air. Folklore berasal dari kata folk dan lore. Folk berarti kolektif, dapat pula berarti rakyat, sedangkan lore artinya tradisi.
Jadi folklore (folklor) adalah salah satu bentuk tradisi rakyat. Tradisi itu diwariskan dengan lisan secara turun-temurun sehingga menjadi sebuah adat yang memiliki legitimitasi tertentu bagi pendukungnya.
Di dalam folklor sering kali terdapat mitos atau serangkaian keyakinan yang dianggap sakral, berbasis pada prasangka. Mitos itu kerap berada di luar batas rasionalitas manusia dan sulit dibuktikan kebenarannya.
Namun, beberapa ilmuwan yang tergabung dalam penelitian etnohidrolika UI mengemukakan mitos itu seharusnya diletakkan pada kegunaan, bukan kebenaran. Fungsi mitos mentransformasikan kenyataan apakah itu baik atau buruk menjadi yang seharusnya terjadi.
Terkait adanya mitos di suatu daerah yang memiliki sumber daya air, menurut Setyo, dapat mendorong masyarakat di sekitarnya lebih bijak dalam memanfaatkan air. Hal itu berlaku tidak hanya pada masyarakat perdesaan, tapi juga masyarakat perkotaan.
Sejatinya, mitos bekerja hanya untuk mengesahkan kenyataan menurut pembuat mitos tanpa orang menyadarinya. Pasalnya, apabila mereka mengetahui, mitos tidak akan ada artinya.
Contoh mitos yang berkembang di masyarakat sekitar Situ Mangga Bolong, Jagakarsa, Jakarta Selatan, adalah cerita rakyat si Japet. Konon, si Japet adalah seorang buronan yang diyakini masyarakat bersembunyi di dalam air di Situ atau Danau Mangga Bolong.
Beberapa penduduk yang tinggal di sekitar situ memberi kesaksian bahwa si Japet berwujud buaya, biawak, belut, ular, dan ikan. Kebanyakan penduduk menyepakati bahwa buronan itu adalah makhluk halus yang menghuni dan menjaga danau itu.
Karena mitos itu pulalah penduduk sekitar tidak berani sembarangan menggunakan air situ, sehingga Situ Mangga Belong, meskipun lokasinya di Jakarta, relatif masih terjaga kelestariannya hingga saat ini.
Selain mitos si Japet yang seram, ada juga folklore tentang pelestarian sungai Tanang yang disakralkan masyarakat Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Dalam mitos yang diceritakan secara turun-temurun, Syech Bahdad sebagai pemuka agama pernah meningalkan pesan agar masyarakat mensyukuri nikmat dengan tidak menggunakan air melebihi kebutuhan. Kisah rakyat itu menitipkan sumber daya air sebagai ‘pusako tinggi’.
Dua kisah tersebut hanyalah secuil cerita rakyat yang hingga saat ini masih tetap lestari di etnisitas tertentu. Meski kebenaran cerita itu masih perlu pembuktian lebih lanjut, cerita itu berhasil mempengaruhi perilaku masyarakat setempat dalam menjaga kelestarian sumber daya air.
Setyo mengatakan, tidak dimungkiri etnohidrolika dapat menguraikan permasalahan sumber daya air secara lebih utuh. Pasalnya, ilmu etnohidrolika mencakup keseluruhan ilmu tentang sumber daya air seperti hidrologi, hidrolika, ekohidrolika, dan sosiohidrolika.
Tidak menutup kemungkinan etnohidrolika dapat memberikan manfaat untuk mentranformasi cerita rakyat secara empiris bagi masyarakat modern. Pasalnya, salah satu ciri masyarakat modern dalam memercayai sesuatu adalah harus dapat dibuktikan secara ilmiah.
Sedangkan bagi masyarakat tradisional, mereka telah memiliki dasar pengetahuan tentang upaya pelestarian sumber daya air yang selama ini dilakukan secara turun-temurun.
Artinya, jika semua cabang ilmu bisa diintegrasikan, termasuk juga dengan kepercayaan tradisional masyarakat setempat, bukan tidak mungkin semua lapisan masyarakat bakal sadar lingkungan.

Pelestarian Air Dengan Budaya
Sejarah kebudayaan yang juga tercermin dalam ajaran semua agama, menempatkan air sebagai simbol kehidupan dan kesucian. Air adalah berkat bagi manusia, yang menuntut pertanggungjawaban terhadap keberlangsungan kehidupan di masa mendatang.
Kesadaran ini pula yang terlihat dalam kearifan lokal nenek moyang masyarakat Indonesia melalui berbagai ritual yang menghargai alam semesta, termasuk air. 
Setiap mata air dipelihara dengan cara kultural. Pepohonan di sekitarnya tidak ditebang. Lokasinya disakralkan. Alirannya dibuatkan jalan berupa parit-parit kecil puluhan kilometer panjangnya menyusuri tebing tinggi dan curam.
Beberapa contoh yang ada diantaranya yang dilakukan penduduk di sekitar lereng Gunung Merapi. Hal serupa juga dilakukan warga Desa Traji, Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung.
Kearifan lokal warga desa Sumbermujur kecamatan Candipuro, Lumajang terhadap sumber mata airnya juga layak disimak dan dijadikan contoh menjaga kelestarian sumber mata air.
Warga di lereng Gunung Semeru itu begitu ketat menjaga kelestarian hutan bambu seluas 13 hektar yang didalamnya menyim-pan mata air yang tak henti-hentinya melahirkan sumber kehidupan bagi warga setempat.
Sebagaimana dikutip dari Kompas (20/12/09) debit air yang dihasilkan sumber tersebut mencapai 800 liter per detiknya sehingga mampu mengairi 891 hektar sawah di empat desa di kecamatan Candipuro. Dan sudah pasti kebutuhan air bersih untuk ribuan warga desa tersebut juga mampu dipenuhi sumber air tersebut sepanjang tahun.
Sayangnya, tak semua orang memiliki kearifan terhadap lingkungan seperti itu. Bahkan seiring dengan dinamika jaman, penghargaan terhadap air tampaknya semakin terpinggirkan.  Kesadaran tersebut digerus oleh paradigma yang diletakkan sebagai landasan pembangunan dalam segala aspek di negeri ini. 
(Luddy Eko Pramono, Buku Cintai Tanahmu : Kasihi Airmu)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar