Selasa, 03 Maret 2015

Etnohidrolika, Mitos Yang Menjaga Kelestarian Air



AIR merupakan sumber daya alam yang memiliki arti penting bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Ada macam-macam pendekatan yang dilakukan para ahli dan pemerintah untuk mengatasi masalah air. Ada yang menggunakan pendekatan ilmu hidrologi, hidrolika, ekohidrolika dan sosiohidrolika.
Namun Kepala Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), Dr Setyo S Moersidik memiliki konsep tersendiri dalam hal pemanfaatan, pengolahan serta pelestarian sumber daya air.
Konsep baru itu ia beri nama  Etnohidrolika yang berusaha mengungkap upaya pemanfaatan, pengelolaan air, serta upaya pelestariannya dari perspektif budaya yang berkembang di suatu daerah.

Senin, 16 Februari 2015

Pohon Ditebang, Mata Air Kerontang



JIKA musim hujan sudah tiba, maka kita pasti suguhi informasi tentang bencana-bencana alam yang terjadi di seluruh penjuru negeri bahkan dari luar negeri. Beritanya pasti tentang banjir dan tanah longsor yang memakan korban harta benda bahkan nyawa manusia.
Tahu nggak, semua bencana itu terjadi akibat kejahatan kita terhadap alam, khususnya pepohonan. Lantaran dengan seenaknya menebang pohon, hutan-hutanpun jadi gundul, lahan di lereng pegunungan jadi melompong.
Akibatnya dengan enak saja air hujan yang turun langsung meluncur kebawah sambil membawa partikel-partikel tanah di sepanjang alur yang dilaluinya. Pada akhirnya, kerapnya bencana banjir dan tanah longsor ini akan berdampak serius terhadap kondisi perekonomian masyarakat.

Cintai Tanahmu, Kasihi Airmu



DATA yang dirilis LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyatakan Indonesia memiliki hutan seluas 126 juta hektar. Jumlah itu merupakan 10% dari total luasan hutan tropis di seluruh penjuru dunia yang masih tersisa.
Hutan Indonesia juga merupakan paru-paru dunia, yang dapat menyerap karbon dan menyediakan oksigen bagi kehidupan di muka bumi ini. Selain itu hutan Indonesia memiliki 12% dari jumlah spesies binatang menyusui/mamalia, pemilik 16% spesies binatang reptil dan ampibi, 1.519 spesies burung dan 25% dari spesies ikan dunia.
Sebagian diantaranya adalah endemik atau hanya dapat ditemui di daerah tersebut.

Jumat, 13 Februari 2015

Reduce, Reuse, Recycle (3R)



KAMU pasti sudah pernah mendengar istilah 3R diatas yang sering didengungkan oleh banyak pencinta lingkungan. 3R itu adalah Reduce, Reuse and Recycle.
“Reuse” adalah memanfaatkan kembali limbah sampah yang sebenarnya masih dapat dipergunakan, misalnya untuk membuat kerajinan dan barang-barang lainnya.
“Reduce” yaitu mengurangi debit sampah yang dibuang, dimulai dari unsur terkecil yaitu diri sendiri untuk menghindari sebisa mungkin menggunakan barang yang dapat menimbulkan sampah. Misalnya memilih menggunakan gelas untuk minum daripada air minum dalam kemasan.

Barang Bekas Jadi Berkelas



LALU bagaimana dengan penanganan sampah non organik. Sampah-sampah jenis ini bisa kita alih fungsikan menjadi benda lain yang bermanfaat. Contohnya, botol plastik dibuat tempat sabun cair, pencuci lantai dsb. Jadi kita uma beli refill aja, hemat bukan? Atau kaleng-kaleng cat yang dijadikan pot tanaman dan sebagainya.
Cara kedua adalah memprosesnya menjadi bentuk lain. Daur ulang plastik tak hanya bisa menjaga kelestarian alam. Tapi juga bisa mendatangkan keuntungan ekonomi. Apalagi, jika pengelolaan sampah plastik itu dilakukan dengan serius dan mendapatkan dukungan pemerintah.

Senin, 09 Februari 2015

BERUBAHLAH



Sebenarnya ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global ini. Ada banyak punya tulisan para ahli lingkungan hidup yang memberikan solusi yang bisa diterapkan umat manusia untuk kembali menjalin persahabatan yang erat dengan alam.
Namun kuncinya bukan terletak pada bagaimana caranya, tapi tentang bagaimana kemauan kita mengubah pola hidup kita dan kebiasaan-kebiasaan kita yang dulunya justru merugikan alam semesta.
Jika kita tak mau berubah maka sia-sialah semua yang diucapkan. Hanya sebatas jargon-jargon atau seruan tanpa makna. Posisi alam akan tetap termarjinalkan alias terpinggirkan. Ia tetap menjadi obyek dan bukan subyek.

Dampak Pemanasan Global



ADA banyak dampak dari peningkatan suhu udara sebagai akibat dari pemanasan global. Kita akan coba mengupasnya satu persatu dan terperinci, mulai dari akibatnya terhadap alam, lingkungan dan manusia.