Penginjil itu bernama
Kiai Ibrahim Tunggul Wulung
Oleh Jaludieko
Pramono
Seorang pria jawa datang ke Mojowarno di sekitar tahun
1853. J.D. Wolterbeek dalam bukunya yang berjudul Babad Zending ing Tanah Jawi
menggambarkan lelaki sebagai sosok yang tampan. Berhidung mancung dengan sorot
mata yang tajam seakan bisa melihat isi hati orang yang dihadapinya. Tubuhnya
tinggi ramping namun kuat dan pemberani.
Pada J.E. Jellesma, gembala sidang jemaat di Mojowarno
pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Kiai Tunggul Wulung. Ia mengaku sebagai
pertapa yang baru turun dari Gunung Lawu.
Namun Wolterbeek menyebut asal-usul Tunggul Wulung
sangatlah buram lantaran sangat lekatnya antara fakta dan mitos yang
menyelimutinya sebagai orang yang memiliki kemampuan olah batin.




