Jumat, 21 Februari 2025

Sarip Tambak Oso, Antara Kisah Ludruk dan Pemberitaan Koran Belanda

 Oleh: Jaludieko Pramono



Sarip Tambak Oso adalah nama yang melegenda di Kabupaten Sidoarjo. Dan sebagai seorang legenda, nama itu bergerak liar diantara ruang fakta dan mitos, antara data sejarah yang tertulis dan kisah rakyat yang menyebar dari mulut ke mulut.



Tapi diantara kesimpang-siuran tersebut, satu hal yang bisa dipastikan, bahwa Sarip Tambak Oso adalah sosok historis. Ia adalah seorang pribadi yang benar-benar hidup di rentang waktu akhir abad ke 19 hingga awal abad 20.


Hal itu dibuktikan dengan adanya berita yang termuat di koran-koran lokal di masa kolonial Belanda. Tulisan-tulisan tentang Sarip tersurat di koran The Lokomotiv tanggal 23 Agustus 1905, Het Nieuws Van Den Nederlandsch-Indie tanggal 18 Mei 1908 dan Het Vaderland tanggal 4 Maret 1912.


Koran pertama mendiskripsikan Sarip sebagai sosok yang kejam. Ia adalah residivis sekaligus buron yang berhasil lolos dari beberapa rumah tahanan. Bahkan dengan jelas koran ini menyebut Sarip telah melakukan perampokan.


Dalam penulisannya itu, The Locomotiv menyebut Sarip telah membunuh Lurah Tambakrejo dengan cara menusuk hingga beberapa kali. Selanjutnya ia dikabarkan melarikan diri yang diperkirakan ke sebuah kawasan yang disebut Tambaksari.


Usai kejadian itu, beberapa lurah di distrik Gedangan bersepakat untuk menangkap Sarip. Bahkan mereka menjanjikan hadiah sebesar 80 gulden bagi siapa saja yang berhasil menangkap orang yang disebut-sebut telah membuat desa-desa di wilayah itu menjadi tidak aman.


Di akhir berita, Sarip dikisahkan berhasil ditangkap atas jasa “seorang pribumi yang juga dikenal sebagai bajingan, dan juga sering bepergian dengan Sarip”. Cerita penangkapan itu diwarnai dengan perkelahian.


Sarip yang berhasil dibekuk hidup-hidup, kemudian diserahkan pada lurah. Berikutnya ia dikirim ke asisten wedono yang membawahi distrik Gedangan untuk kembali dipenjarakan. Namun tak disebutkan dimana ia dibui.


Nama Sarip kembali muncul di pemberitaan Het Nieuws Van Den Nederlandsch-Indie" tanggal 18 Mei 1908. Dari tulisannya, rupanya koran ini menuliskan kembali berita yang sebelumnya sudah termuat di koran Soerabaijasch Handelsblad.


Dan lagi-lagi, kisah minorlah yang tersaji tentang sosok ini. Ia dikabarkan kembali melakukan aksi pembunuhan terhadap seseorang bernama Brahim di depan rumah Raden Miti di kawasan Sepanjang. Selain itu ia juga melukai seorang lainnya bernama Dolah.


Kedua korban itu diidentiikasikan berasal dari Desa Ngeni, Kecamatan Gedangan.
Yang menarik, koran ini juga menyebut Sarip sebagai warga desa Tambakredjo, Kecamatan Sedati. Namun ia malah ditulis sebagai seorang pekerja paksa pengguna narkoba dari Padang. Sarip juga didiskripsikan sebagai buronan polisi yang sulit ditemukan karena kepala kampung yang malas.


Kisah di koran ini bermula dari seorang perempuan cantik bernama Marmi. Perempuan itu pergi bersama dengan dua orang lelaki tadi dengan menaiki dokar. Saat dokar melintas di kawasan Sepanjang, mereka bertemu dengan Sarip.


Disana mereka sempat cekcok. Sarip memukul Marmi yang disebut tidak setia karena ia tak menemukan perempuan itu di rumah. Tapi Marmi berusaha membela diri. Ia mengaku dipaksa oleh Brahim dan diancam akan dibunuh jika tak mau mengikutinya.


“Akibatnya, Brahim dan Sarip pun bertarung. Yang pertama dipersenjatai dengan tombak, yang lainnya dengan golok. Brahim kalah dan menjadi mayat. Doelah dipukul.” Begitu terjemahan bebas yang dilakukan Bony Suwandi, seorang pegiat sejarah Sidoarjo sebagaimana dikutip dari facebook Sidoarjo Masa Kuno.


Setelah melakukan aksinya itu, Sarip disebutkan pergi dengan tenang naik dokar ke desanya. Aparat kepolisian kolonial dari Taman dan Sepanjang pun memburu Sarip. Mereka menggerebek Sarip di tempat persembunyiannya. Namun baru beberapa jam kemudian Sarip berhasil ditangkap di rumahnya oleh wedono Sedati. 


Akhir hidup Sarip pun terdokumentasikan melalui pemberitaan di koran Het Vaderland tanggal 4 Maret 1912. Lagi-lagi, koran ini juga mengutip berita dari surat kabar Soerabaijasch Handelsblad. Dituliskan disana, “perampok Sarip yang bersangkutan ditembak mati oleh polisi yang mengejarnya.”


Warga desa Tambak Reso itu disebut sempat kabur dari penjara di Surabaya. Selama masa pelarian, ia diperkirakan berkeliaran di desa Tambaksari, Tambakrane, Sumur, Gedong Asri, Rungkut, Menangal dan Rungkut Tengah.


Bony menyebutkan, dalam berita itu dijelaskan, saat itu daerah Rungkut Tengah dulu terkenal sebagai pusat rumah judi dadu yang terus buka dari siang hingga malam hingga dijuluki Monte Carlo mini. Disebut juga, daerah Rungkut Tengah di masa itu berada di dekat pantai.


Pada 30 Januari lalu, Wedono menerima laporan mata-mata dari Gedangan bahwa Sarip berada di rumah saudaranya,  Marup di desa Tambak Reso. Keesokan harinya, petugas kepolisian menggerebek rumah itu.


Marup disebut sempat melakukan perlawanan dan berusaha menghalang-halangi usaha polisi. Setelah beberapa saat akhirnya polisi berhasil masuk ke dalam rumah itu dan melakukan penggeledahan, namun Sarip tak ditemukan.


Lalu seorang polisi menemukan jalan setapak baru menuju ke keris di belakang rumah Marup. Ia memperkirakan Sarip melarikan diri melalui rawa. Polisi pun mengejar Sarip hingga ke tepi sungai. Saat melihat adanya perahu yang tertambat disana, merekapun meyakini buruannya masih berada di wilayah desa Tambak Rejo.


Pukul 11 pagi, polisi melihat Sarip yang memegang senjata berupa pisau panjang melengkung, sebenarnya semacam pedang (telangkas). Ia memburu seorang petugas polisi. Petugas itu berusaha kabur hingga ia bertemu dengan putra wedono yang dikawal seorang prajurit Beaumont. 


Petugas itu membidik Sarip dari jarak 25 meter. Meski dada kanannya tertembak, Sarip tetap berusaha melarikan diri. Polisi pun memburunya hingga ke kawasan Tebel.


Berikutnya, atas perintah Wedono, seorang prajurit kembali menembak Sarip dan mengenai dada kirinya. Sarip pun tewas dan jenazahnya dibawa ke Wedono Gedangan. 


Di bagian akhir, koran itu menulis, “seluruh penduduk asli dari desa-desa tetangga mengerumuni penguasa teror yang terbunuh itu. Nanti jenazah dibawa ke Sidoardjo, supaya bupati bisa melihat kematian subjek berbahaya ini.”


Inilah data-data sejarah yang tertulis tentang Sarip, sang legenda dari Tambak Reso. Koran-koran Belanda mengidentifikasinya sebagai seorang perampok, pembunuh, pengguna narkoba, pembuat onar yang kerap keluar masuk penjara. 


Penguraian tentang identitas Sarip ini jelas ini sangat tidak nyaman bagi orang-orang yang terlanjur menganggapnya sebagai pahlawan lokal, tapi setidaknya itulah fakta yang tertulis sebagai data historis paling akurat. 


Terlepas dari pemberitaan di koran-koran itu, kisah rakyat yang beredar justru membuat identifikasi yang berbeda. Sarip justru ditempatkan sebagai sosok yang berani melawan pemerintah kolonial Belanda. 


Setidaknya itu yang bisa kita tangkap dari penggambaran Sarip melalui lakon-lakon pementasan Ludruk. Dari mana landasan kisahnya, tentu saja tidak jelas, hanya dari mulut ke mulut saja yang bergerak melintasi masa. 


Namun dalam kisah-kisah itu diksi peristiwa heroismenya justru sangat minim. Paling hanya saat ia membunuh Lurah Tambak Rejo, yang dianggap sebagai antek penjajah, lantaran telah berbuat kasar dan kejam terhadap ibu Sarip. Selebihnya nyaris tidak ada, kecuali dari ujaran-ujaran sang tokoh saja dalam scene-scene selanjutnya.


Ketokohan Sarip bagi warga Desa Tambak Reso atau Tambak Rejo mungkin timbul dari perilakunya yang dimitoskan sebagai Robin Hood Van Sidoarjo. Yakni seorang pencuri yang baik hati karena suka membagi-bagikan hasil jarahannya pada orang-orang di sekitarnya.


Namun aksi patriotismenya yang bertujuan memerangi penjajahan di wilayahnya sepertinya masih perlu diuji lebih lanjut. Karena itu para pegiat sejarah, khususnya di Kabupaten Sidoarjo harus lebih tekun lagi berburu data historis tersebut ketimbang sibuk mencari dimana sejatinya makam Sarip Tambak Oso yang melegenda itu. 


Jika kita tidak terlalu percaya dengan pemberitaan koran-koran berbahasa Belanda di jaman itu yang dinilai terlalu tendensius ke kepentingan pemerintah kolonial, setidaknya kita bisa mencari cerita tentang Sarip dari koran-koran Bumiputera yang terbit di awal abad ke 20.


Atau bisa juga data dari koran berbahasa Belanda lainnya, namun yang menyebut Sarip sebagai seorang pemberontak atau ia melakukan aksi-aksi yang dinilai sebagai bentuk pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda sehingga tak perlu ragu lagi untuk menjadikan Sarip sebagai local Hero Sidoarjo.(bersambung)
*) penulis adalah penikmat sejarah di Sidoarjo

Minggu, 09 Februari 2025

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 6) - Jejak Gan Kwee di Sepanjang Pulau Jawa

Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono



Kawasan pemukiman dan usaha warga Tionghoa di salah satu sudut kota Cirebon pada masa kolonial Belanda. (Foto by:timesindonesia.co.id)


Pada tahun 1862 Gan Kwee singgah ke Banyumas dan Purbalingga. Disana ia bertemu Khouw Tek San.  Pedagang hasil bumi itu diinjilinya hingga memutuskan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Bahkan Khouw Tek San juga mengijinkan rumahnya dijadikan pos pengabaran Injil. 


Langkah awal Gan Kwee itupun dilanjutkan guru Injil bernama Leonard di awal 1865. Hingga pada 5 Mei 1866, Khouw Tek San bersama 9 orang Jawa  yang telah belajar tentang keimanan Kristen dibaptis oleh seorang pekabar Injil bernama Ds. A. Vermeer di Purbalingga.


Sejak saat itu pekabaran Injil bagi warga Tionghoa dan Jawa di Purbalingga makin digiatkan oleh Khouw Tek San dan Leonard. Pada 1867 jumlah jiwa yang sudah dibaptis mencapai 68 jiwa. 


Salah seorang misionaris dari Nederlandsche Zendings Vereeniging (NZV), Pdt. A. Djikstra menceritakan buah pekerjaan Gan Kwee di Cirebon. Disana penginjil Tionghoa tersebut menobatkan Yoe Ong Pauw, seorang letnan Tionghoa di kota itu.


Jabatan terhormat dan strategis yang diberikan pemerintah Hindia Belanda sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa di kota itu, membuat jalan pertobatan Yoe Ong Pauw jadi penuh tantangan. 


Sebagai seorang Luitenant der Chinezent, Yoe Ong Pauw tidak hanya berperan dalam lingkup sosial kemasyarakatan namun juga keagamaan. Pasalnya Kelenteng di kota itu biasanya didirikan oleh para Letnan Tionghoa tersebut.


Menjadi Kristen membuat posisi Yoe Ong Pauw terancam. Setelah dibaptis oleh A. Djikstra, ia harus siap kehilangan jabatannya yang prestisius itu sewaktu-waktu. Meski begitu ia tetap teguh dalam imannya.


Yoe Ong Pauw bahkan membuka rumahnya untuk menjadi tempat pengajaran dan pekabaran Injil. Usahanya itu membawa hasil yang menggembirakan karena banyak mendapatkan perhatian serta kunjungan dari orang-orang Tionghoa yang akhirnya memberi diri dibaptis hingga terbentuklah jemaat Tionghoa di Cirebon.


Melalui Gan Kwee jaringan pertama terbentuk di beberapa kota penting di Jawa. Diantaranya ke Purworejo, Purbalingga, Cirebon, Sukabumi, Tegal, Semarang, Ambarawa, Salatiga, Surakarta, Magelang, lalu Surabaya, Pasuruan dan Probolinggo di Jawa Timur.


Setelah memberitakan Injil dari ujung barat ke ujung timur pulau Jawa Gan Kwee kembali ke Batavia pada 1899. Ia menumpang di rumah keluarga Gouw Ko sampai meninggal dunia tanggal 22 Juni 1901.(*/bersambung)

Kamis, 30 Januari 2025

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 5) - Dari Batavia, Mereka Bergerak ke Segala Arah

Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono

Pemukiman warga Tionghoa di Batavia di tahun 1908 (foto by: pinterest.com)


Setelah berkembang di kawasan Batavia, aksi penginjilan semakin digiatkan dengan penuh semangat. Badan-badan misionarispun turun ke berbagai daerah, termasuk ke wilayah Pasundan atau Jawa Barat.


Sampai menjelang akhir abad ke-19, tanah Pasundan masih menjadi wilayah yang belum ditaburi oleh Injil, sebab pemerintah Hindia Belanda khawatir akan timbulnya perlawanan dari orang-orang Sunda yang sebagian besar menganut agama Islam. 


Apalagi para utusan NZV yang pertama tiba di Batavia pada 1863 dan berniat melakukan pekabaran Injil pada orang-orang Sunda, justru terhambat izin dari pemerintah kolonial disana. 


Setelah menteri jajahan Kerajaan Belanda turun tangan, barulah Pdt. C. Albers dapat bekerja di Cianjur mulai 10 Juli 1865. Pun demikian dengan Pdt. A. Djikstra yang sudah terlebih dahulu datang ke Cirebon (1863) dan Pdt. C. Linden di Indramayu (1864).


Namun, orang-orang Sunda ternyata tidak terlalu terbuka terhadap Injil, sebab kekristenan diasosiasikan sebagai agama ‘Urang Walanda’ yang artinya agama bangsa penjajah. 


Gara-gara itu NZV tidak berhasil membangun jemaat Sunda meski sudah mengutus sekitar 40 orang pekabar Injil ke wilayah ini di rentang waktu 60 tahun. Bahkan Hendrik Kramer, seorang penasehat badan penginjilan Belanda sampai menggambarkan Jawa Barat sebagai tanah yang tandus.


Pernyataan serupa juga disampaikan H.J. Rooseboom, mantan direktur NZV. "Ada banyak perlawanan di Jawa Barat, memang disana terdapat banyak penentang diantaranya orang-orang Islam dan juga diantara orang-orang kafir.” Mungkin yang disebutnya sebagai orang-orang kafir adalah para penganut animisme. 


Namun sebaliknya, hasil yang menggembirakan justru hadir dari kalangan Tionghoa peranakan di pesisir utara Jawa Barat. Ketika Pdt. van der Linden datang ke Indramayu, ia mendapati adanya Jemaat Tionghoa di kota itu. 


Selanjutnya, A. Djikstra dalam kesaksiannya mengatakan..., "Untuk pertama kalinya saya berjumpa dengan Gan Kwee. Tiga tahun lalu ia juga berkunjung ke Cirebon. Dari benih Injil yang ditaburkan di situ, ia dapat melihat beberapa hasilnya yang baik.” .(*/bersambung)

Rabu, 22 Januari 2025

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 4) - Orang-Orang Sinkeh yang Mengikut Kristus

 Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono

Aktivitas warga Tionghoa di salah satu sudut kota Batavia.(foto by: jernih.co)


Setelah membentuk kelompok jemaat Patekoan, Gan Kwee dan F.L. Anthing terus mendampingi sekelompok orang Kristen baru tersebut. Terlebih setelah pria Belanda itu pensiun dari tugasnya sebagai Ketua Muda Pengadilan Tinggi Batavia pada 1867.

Awalnya komunitas jemaat ini menyebut dirinya sebagai gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Tong. Jemaat ini kemudian terus berkembang hingga menjadi 62 orang pada tahun 1868. Sebagian besar umat ini terdiri dari orang sinkeh, yakni orang Tiongkok totok dan belum mengerti bahasa Melayu.

Salah satunya adalah Gouw Kho, seorang pedagang asal Tiongkok yang menetap di Batavia sejak 1874. Ia dipercaya mengambil alih tampuk kepemimpinan jemaat Patekoan pada saat Gan Kwee mulai sering meninggalkan Batavia.

Gan Kwee kian bersemangat melakukan penginjilan pada orang-orang Tionghoa di kota lain di sepanjang pulau Jawa seperti Cirebon, Tegal, Semarang, Ambarawa, Salatiga, Surakarta, Magelang, Pasuruan dan Probolinggo. 

Sementara itu, Gouw Kho memegang peran penting dalam menjalankan roda pelayanan di jemaat di Batavia, sedangkan para zendeling dari Java Comite (JC) hanya bertindak sebagai rekan sekerja dan penasihat.

Selama melayani di Patekoan, Gouw Kho giat melakukan pekabaran Injil kepada sesama orang Tionghoa. Ia memberikan waktu, tenaga, dan pikiran demi perluasan karya misi di Batavia, bahkan menghibahkan sebidang tanah dan empat buah rumah pribadinya demi perkembangan jemaat.

Maka dapat dilihat bahwa orang Tionghoa tidak hanya mempersembahkan tenaga tetapi juga harta demi pekabaran Injil. Segala tindakan Gouw Kho mendorong orang-orang Kristen lain di Patekoan untuk memberitakan Injil pada sesamanya. 

Selain istilah Patekoan, rumah yang rutin dipakai jemaat Tionghoa Kristen itu beribadah juga disebut warga setempat sebagai gereja “Salib Tiga”.  

Pada 1899 Pemerintah Hindia Belanda akhirnya memberi status pada jemaat tersebut dengan nama: “Evangelische Chineesche Gemeente tot Uitbreiding van Gods Koninkrijk”. 

Di masa-masa berikutnya, kelompok jemaat Tionghoa itupun diorganisasi dengan nama Gereja Kristen Indonesia (GKI) Perniagaan lalu diubah menjadi GKI Samanhudi. (*/Bersambung)

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 3 ) - Sang Penegak Tonggak itu Bernama Gan Kwee

Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono


Pemukiman warga etnis Tionghoa di salah satu sudut kota Batavia. (Foto by: Historia.id)


Meski jabatan resminya adalah Ketua Muda lembaga peradilan tertinggi Kerajaan Belanda di Batavia, namun F.L. Anthing punya visi penginjilan yang luar-biasa. Ia begitu bersemangat melakukan kerja penginjilan melalui Perkumpulan Pekabar Injil bernama Genootschap Voor In-en Uitwendige Zending.


Bersama J.P. Esser dan Ds. E.W. King, ia mendidik beberapa anak muda untuk menjadi misionaris. Diantaranya Gan Kwee yang diyakini menjadi orang Tionghoa pertama di Jawa yang menerima baptisan Protestan pada tahun 1856. 


Menurut catatan seorang ahli sejarah gereja dan sekaligus seorang Pastor yaitu A. Heuken SJ dalam bukunya yang berjudul Gereja-Gereja Tua di Jakarta, Gan Kwee  berasal dari Xianmen, Tiongkok. Ia datang ke Batavia sebagai pekerja pada 1851.


Usai direkrut dan dididik, Gan Kwee langsung diminta melakukan penginjilan. Anthing menyatakan pekabaran Injil pada orang Tionghoa seharusnya dilakukan oleh orang Tionghoa sendiri yang berbahasa mandarin dan paham benar dengan akar budaya etnis tersebut.


Ternyata pekabaran Injil yang dilakukan Gan Kwee bisa diterima oleh masyarakat Tionghoa di Batavia. Meski begitu dibutuhkan waktu hingga 12 tahun, yakni pada 1868 untuk menjadikan 17 orang Tionghoa dewasa menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka.


Mereka kemudian dibaptis oleh seorang pendeta Belanda yang bernama Ds. de Gaay Fortman. Selanjutnya mereka membentuk kelompok jemaat di kawasan Patekoan (kini Jl. Perniagaan Jakarta Barat).


Setelah beberapa lama berkarya di Batavia, Gan Kwee mulai mengabarkan Injil ke kota-kota lain. Hasilnya, sebagaimana yang terjadi di Batavia, jemaat-jemaat Tionghoa berkembang dengan cepat di Indramayu, Cirebon, Bandung bahkan ke Sukabumi dan Bogor. 


Menyaksikan buah-buah pekabaran injil itu, salah seorang misionaris dari Nederlandsche Zendings Vereeniging (NZV), A.K. de Groot mengatakan..., "Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa Allah kadangkala telah bekerja dengan cara yang ajaib diantara orang-orang Tionghoa. Jemaat Injili Patekoan (Batavia), Indramayu, dan Kudus telah membuktikan hal itu, bahwa tanpa pekabar-pekabar Injil Eropa Allah juga berkenan membiarkan Injil berakar di hati orang-orang Tionghoa.”(*/Bersambung)

Senin, 20 Januari 2025

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 2) - Usaha Selama Dua Abad yang Tak Membuahkan Hasil

Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono

Para misionaris yang pernah dikirim badan zending Belanda ke Indonesia. (foto: historia.id)


Setelah vakum selama hampir dua abad, usaha pekabaran Injil pada komunitas Tionghoa kembali menemukan gairahnya dengan kehadiran London Missionary Society (LMS) ketika Nusantara dikuasai oleh Inggris. 

Adalah William Milne yang menjadi misionaris pertama dari organisasi ini yang datang ke Jawa pada 1818. Sejatinya ia diutus untuk melakukan pekabaran Injil ke Tiongkok. Namun, karena terkendala izin masuk, LMS mengalihkan pelayanan Milne pada orang-orang Tionghoa di Batavia yang dilakukan hingga 1822. 

Sepeninggal Milne, pelayanan pada orang-orang Tionghoa dilanjutkan oleh Henry Medhurst pada 1822. Dalam bukunya yang berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya Batas-Batas Pembaratan, Denys Lombard menulis, misionaris Inggris itu datang ke Batavia dan memilih menetap di lingkungan masyarakat Tionghoa. 

Ia sangat fasih berkomunikasi dalam bahasa Melayu dan juga Mandarin yang dipelajarinya saat melakukan pekabaran Injil di Malaka dan Penang beberapa tahun sebelumnya.

Ia mendirikan sebuah percetakan kecil di sebuah sudut kota Batavia yang bernama Prapatan. Di tempat itu ia mencetak selebaran-selebaran dan juga barang cetakan lainnya yang berisi ajaran keimanan Kristen.

Medhurst menjalankan tugas sucinya pada masyarakat Tionghoa dengan penuh semangat selama 21 tahun. Bahkan kabarnya ia mengabarkan Injil pada orang-orang Tionghoa sampai ke Bali dan Kalimantan. 

Tetapi seperti pendahulunya, Medhurst juga tidak mampu membuahkan kelompok jemaat Tionghoa yang mapan hingga ia dikabarkan meninggalkan kota Batavia pada 1843. 

Catatan terdekat berikutnya menyebutkan ada gerakan yang dilakukan F.L. Anthing (1820-1883) dengan mendirikan Perkumpulan Pekabar Injil bernama Genootschap Voor In-en Uitwendige Zending pada 1851.

Anthing bukan seorang misionaris. Ia justru pejabat negara yang duduk sebagai Ketua Muda lembaga peradilan tertinggi Kerajaan Belanda di Batavia. Namun kasih Kristus mendorongnya agar lebih mencurahkan tenaganya untuk menyampaikan kabar baik pada setiap orang yang belum mengenal Tuhan.(*/bersambung)

Minggu, 19 Januari 2025

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 1) - Justus Hernius yang Membuka Jalan di Batavia

Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono


Ilustrasi gedung gereja Protestan di Batavia. (historia.id)


VOC memang tidak terlalu menaruh minat dalam karya misi di wilayah kekuasannya. Menurut Adolf Heukeun dalam bukunya yang berjudul Gereja-Gereja Tua Di Jakarta (Jakarta: Cipta Loka Caraka, 2003), perusahaan dagang tersebut datang ke Batavia semata-mata untuk mencari kekayaan.

Kalaupun ada pendeta yang didatangkan dari Eropa ke Jawa, semata-mata bertujuan untuk merawat kerohanian para pegawai VOC serta budak-budak Kristen yang tergabung dalam De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie (Gereja Protestan di Hindia Belanda/GPI). Jadi mereka tidak bertujuan melakukan penyebaran keimanan Kristen pada suku-suku di Nusantara.

Salah satu diantara para pendeta itu adalah Justus Hernius yang menginjakkan kakinya di Batavia pada 17 Juli 1624. Selain menguasai bidang pengobatan pemuka agama itu ternyata mahir berbahasa Tionghoa. 

Dalam pelayanannya ia menerjemahkan pengakuan iman rasuli, 10 Perintah Allah, doa Bapa Kami, dan ringkasan katekismus ke bahasa Mandarin. Karena itu iapun mengarahkan sasaran penginjilannya pada orang-orang Tionghoa yang ada di dalam pusat pemerintahan VOC itu. 

Darwin Darmawan dalam bukunya yang berjudul Identitas Hibrid Orang Cina menyebut pada 1739 terdapat 4.368 orang Tionghoa di dalam kota Batavia dan 10.574 di luar kota. 

Sayangnya perjuangan Hernius ini tidak berlangsung lama dan tidak membuahkan hasil lantaran tak mendapatkan dukungan dari VOC yang lebih mementingkan urusan niaga ketimbang pekabaran Injil. Bahkan hingga kepindahannya ke Saparua, tak ada misionaris lainnya yang menindaklanjuti kerja Justus Hernius. 

Catatan sejarah menulis aksi Pekabaran Injil yang dilakukan para misionaris Protestan di tanah Jawa baru dilakukan lagi pada masa ‘pemerintahan sementara’ Inggris pada 1811 – 1815.

Upaya ini dilakukan atas inisiatif Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Indonesia dan Singapura yang mendatangkan orang-orang dari berbagai perhimpunan Pekabaran Injil Inggris.(*/bersambung)