Kamis, 30 Januari 2025

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 5) - Dari Batavia, Mereka Bergerak ke Segala Arah

Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono

Pemukiman warga Tionghoa di Batavia di tahun 1908 (foto by: pinterest.com)


Setelah berkembang di kawasan Batavia, aksi penginjilan semakin digiatkan dengan penuh semangat. Badan-badan misionarispun turun ke berbagai daerah, termasuk ke wilayah Pasundan atau Jawa Barat.


Sampai menjelang akhir abad ke-19, tanah Pasundan masih menjadi wilayah yang belum ditaburi oleh Injil, sebab pemerintah Hindia Belanda khawatir akan timbulnya perlawanan dari orang-orang Sunda yang sebagian besar menganut agama Islam. 


Apalagi para utusan NZV yang pertama tiba di Batavia pada 1863 dan berniat melakukan pekabaran Injil pada orang-orang Sunda, justru terhambat izin dari pemerintah kolonial disana. 


Setelah menteri jajahan Kerajaan Belanda turun tangan, barulah Pdt. C. Albers dapat bekerja di Cianjur mulai 10 Juli 1865. Pun demikian dengan Pdt. A. Djikstra yang sudah terlebih dahulu datang ke Cirebon (1863) dan Pdt. C. Linden di Indramayu (1864).


Namun, orang-orang Sunda ternyata tidak terlalu terbuka terhadap Injil, sebab kekristenan diasosiasikan sebagai agama ‘Urang Walanda’ yang artinya agama bangsa penjajah. 


Gara-gara itu NZV tidak berhasil membangun jemaat Sunda meski sudah mengutus sekitar 40 orang pekabar Injil ke wilayah ini di rentang waktu 60 tahun. Bahkan Hendrik Kramer, seorang penasehat badan penginjilan Belanda sampai menggambarkan Jawa Barat sebagai tanah yang tandus.


Pernyataan serupa juga disampaikan H.J. Rooseboom, mantan direktur NZV. "Ada banyak perlawanan di Jawa Barat, memang disana terdapat banyak penentang diantaranya orang-orang Islam dan juga diantara orang-orang kafir.” Mungkin yang disebutnya sebagai orang-orang kafir adalah para penganut animisme. 


Namun sebaliknya, hasil yang menggembirakan justru hadir dari kalangan Tionghoa peranakan di pesisir utara Jawa Barat. Ketika Pdt. van der Linden datang ke Indramayu, ia mendapati adanya Jemaat Tionghoa di kota itu. 


Selanjutnya, A. Djikstra dalam kesaksiannya mengatakan..., "Untuk pertama kalinya saya berjumpa dengan Gan Kwee. Tiga tahun lalu ia juga berkunjung ke Cirebon. Dari benih Injil yang ditaburkan di situ, ia dapat melihat beberapa hasilnya yang baik.” .(*/bersambung)

Rabu, 22 Januari 2025

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 4) - Orang-Orang Sinkeh yang Mengikut Kristus

 Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono

Aktivitas warga Tionghoa di salah satu sudut kota Batavia.(foto by: jernih.co)


Setelah membentuk kelompok jemaat Patekoan, Gan Kwee dan F.L. Anthing terus mendampingi sekelompok orang Kristen baru tersebut. Terlebih setelah pria Belanda itu pensiun dari tugasnya sebagai Ketua Muda Pengadilan Tinggi Batavia pada 1867.

Awalnya komunitas jemaat ini menyebut dirinya sebagai gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Tong. Jemaat ini kemudian terus berkembang hingga menjadi 62 orang pada tahun 1868. Sebagian besar umat ini terdiri dari orang sinkeh, yakni orang Tiongkok totok dan belum mengerti bahasa Melayu.

Salah satunya adalah Gouw Kho, seorang pedagang asal Tiongkok yang menetap di Batavia sejak 1874. Ia dipercaya mengambil alih tampuk kepemimpinan jemaat Patekoan pada saat Gan Kwee mulai sering meninggalkan Batavia.

Gan Kwee kian bersemangat melakukan penginjilan pada orang-orang Tionghoa di kota lain di sepanjang pulau Jawa seperti Cirebon, Tegal, Semarang, Ambarawa, Salatiga, Surakarta, Magelang, Pasuruan dan Probolinggo. 

Sementara itu, Gouw Kho memegang peran penting dalam menjalankan roda pelayanan di jemaat di Batavia, sedangkan para zendeling dari Java Comite (JC) hanya bertindak sebagai rekan sekerja dan penasihat.

Selama melayani di Patekoan, Gouw Kho giat melakukan pekabaran Injil kepada sesama orang Tionghoa. Ia memberikan waktu, tenaga, dan pikiran demi perluasan karya misi di Batavia, bahkan menghibahkan sebidang tanah dan empat buah rumah pribadinya demi perkembangan jemaat.

Maka dapat dilihat bahwa orang Tionghoa tidak hanya mempersembahkan tenaga tetapi juga harta demi pekabaran Injil. Segala tindakan Gouw Kho mendorong orang-orang Kristen lain di Patekoan untuk memberitakan Injil pada sesamanya. 

Selain istilah Patekoan, rumah yang rutin dipakai jemaat Tionghoa Kristen itu beribadah juga disebut warga setempat sebagai gereja “Salib Tiga”.  

Pada 1899 Pemerintah Hindia Belanda akhirnya memberi status pada jemaat tersebut dengan nama: “Evangelische Chineesche Gemeente tot Uitbreiding van Gods Koninkrijk”. 

Di masa-masa berikutnya, kelompok jemaat Tionghoa itupun diorganisasi dengan nama Gereja Kristen Indonesia (GKI) Perniagaan lalu diubah menjadi GKI Samanhudi. (*/Bersambung)

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 3 ) - Sang Penegak Tonggak itu Bernama Gan Kwee

Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono


Pemukiman warga etnis Tionghoa di salah satu sudut kota Batavia. (Foto by: Historia.id)


Meski jabatan resminya adalah Ketua Muda lembaga peradilan tertinggi Kerajaan Belanda di Batavia, namun F.L. Anthing punya visi penginjilan yang luar-biasa. Ia begitu bersemangat melakukan kerja penginjilan melalui Perkumpulan Pekabar Injil bernama Genootschap Voor In-en Uitwendige Zending.


Bersama J.P. Esser dan Ds. E.W. King, ia mendidik beberapa anak muda untuk menjadi misionaris. Diantaranya Gan Kwee yang diyakini menjadi orang Tionghoa pertama di Jawa yang menerima baptisan Protestan pada tahun 1856. 


Menurut catatan seorang ahli sejarah gereja dan sekaligus seorang Pastor yaitu A. Heuken SJ dalam bukunya yang berjudul Gereja-Gereja Tua di Jakarta, Gan Kwee  berasal dari Xianmen, Tiongkok. Ia datang ke Batavia sebagai pekerja pada 1851.


Usai direkrut dan dididik, Gan Kwee langsung diminta melakukan penginjilan. Anthing menyatakan pekabaran Injil pada orang Tionghoa seharusnya dilakukan oleh orang Tionghoa sendiri yang berbahasa mandarin dan paham benar dengan akar budaya etnis tersebut.


Ternyata pekabaran Injil yang dilakukan Gan Kwee bisa diterima oleh masyarakat Tionghoa di Batavia. Meski begitu dibutuhkan waktu hingga 12 tahun, yakni pada 1868 untuk menjadikan 17 orang Tionghoa dewasa menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka.


Mereka kemudian dibaptis oleh seorang pendeta Belanda yang bernama Ds. de Gaay Fortman. Selanjutnya mereka membentuk kelompok jemaat di kawasan Patekoan (kini Jl. Perniagaan Jakarta Barat).


Setelah beberapa lama berkarya di Batavia, Gan Kwee mulai mengabarkan Injil ke kota-kota lain. Hasilnya, sebagaimana yang terjadi di Batavia, jemaat-jemaat Tionghoa berkembang dengan cepat di Indramayu, Cirebon, Bandung bahkan ke Sukabumi dan Bogor. 


Menyaksikan buah-buah pekabaran injil itu, salah seorang misionaris dari Nederlandsche Zendings Vereeniging (NZV), A.K. de Groot mengatakan..., "Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa Allah kadangkala telah bekerja dengan cara yang ajaib diantara orang-orang Tionghoa. Jemaat Injili Patekoan (Batavia), Indramayu, dan Kudus telah membuktikan hal itu, bahwa tanpa pekabar-pekabar Injil Eropa Allah juga berkenan membiarkan Injil berakar di hati orang-orang Tionghoa.”(*/Bersambung)

Senin, 20 Januari 2025

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 2) - Usaha Selama Dua Abad yang Tak Membuahkan Hasil

Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono

Para misionaris yang pernah dikirim badan zending Belanda ke Indonesia. (foto: historia.id)


Setelah vakum selama hampir dua abad, usaha pekabaran Injil pada komunitas Tionghoa kembali menemukan gairahnya dengan kehadiran London Missionary Society (LMS) ketika Nusantara dikuasai oleh Inggris. 

Adalah William Milne yang menjadi misionaris pertama dari organisasi ini yang datang ke Jawa pada 1818. Sejatinya ia diutus untuk melakukan pekabaran Injil ke Tiongkok. Namun, karena terkendala izin masuk, LMS mengalihkan pelayanan Milne pada orang-orang Tionghoa di Batavia yang dilakukan hingga 1822. 

Sepeninggal Milne, pelayanan pada orang-orang Tionghoa dilanjutkan oleh Henry Medhurst pada 1822. Dalam bukunya yang berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya Batas-Batas Pembaratan, Denys Lombard menulis, misionaris Inggris itu datang ke Batavia dan memilih menetap di lingkungan masyarakat Tionghoa. 

Ia sangat fasih berkomunikasi dalam bahasa Melayu dan juga Mandarin yang dipelajarinya saat melakukan pekabaran Injil di Malaka dan Penang beberapa tahun sebelumnya.

Ia mendirikan sebuah percetakan kecil di sebuah sudut kota Batavia yang bernama Prapatan. Di tempat itu ia mencetak selebaran-selebaran dan juga barang cetakan lainnya yang berisi ajaran keimanan Kristen.

Medhurst menjalankan tugas sucinya pada masyarakat Tionghoa dengan penuh semangat selama 21 tahun. Bahkan kabarnya ia mengabarkan Injil pada orang-orang Tionghoa sampai ke Bali dan Kalimantan. 

Tetapi seperti pendahulunya, Medhurst juga tidak mampu membuahkan kelompok jemaat Tionghoa yang mapan hingga ia dikabarkan meninggalkan kota Batavia pada 1843. 

Catatan terdekat berikutnya menyebutkan ada gerakan yang dilakukan F.L. Anthing (1820-1883) dengan mendirikan Perkumpulan Pekabar Injil bernama Genootschap Voor In-en Uitwendige Zending pada 1851.

Anthing bukan seorang misionaris. Ia justru pejabat negara yang duduk sebagai Ketua Muda lembaga peradilan tertinggi Kerajaan Belanda di Batavia. Namun kasih Kristus mendorongnya agar lebih mencurahkan tenaganya untuk menyampaikan kabar baik pada setiap orang yang belum mengenal Tuhan.(*/bersambung)

Minggu, 19 Januari 2025

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 1) - Justus Hernius yang Membuka Jalan di Batavia

Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono


Ilustrasi gedung gereja Protestan di Batavia. (historia.id)


VOC memang tidak terlalu menaruh minat dalam karya misi di wilayah kekuasannya. Menurut Adolf Heukeun dalam bukunya yang berjudul Gereja-Gereja Tua Di Jakarta (Jakarta: Cipta Loka Caraka, 2003), perusahaan dagang tersebut datang ke Batavia semata-mata untuk mencari kekayaan.

Kalaupun ada pendeta yang didatangkan dari Eropa ke Jawa, semata-mata bertujuan untuk merawat kerohanian para pegawai VOC serta budak-budak Kristen yang tergabung dalam De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie (Gereja Protestan di Hindia Belanda/GPI). Jadi mereka tidak bertujuan melakukan penyebaran keimanan Kristen pada suku-suku di Nusantara.

Salah satu diantara para pendeta itu adalah Justus Hernius yang menginjakkan kakinya di Batavia pada 17 Juli 1624. Selain menguasai bidang pengobatan pemuka agama itu ternyata mahir berbahasa Tionghoa. 

Dalam pelayanannya ia menerjemahkan pengakuan iman rasuli, 10 Perintah Allah, doa Bapa Kami, dan ringkasan katekismus ke bahasa Mandarin. Karena itu iapun mengarahkan sasaran penginjilannya pada orang-orang Tionghoa yang ada di dalam pusat pemerintahan VOC itu. 

Darwin Darmawan dalam bukunya yang berjudul Identitas Hibrid Orang Cina menyebut pada 1739 terdapat 4.368 orang Tionghoa di dalam kota Batavia dan 10.574 di luar kota. 

Sayangnya perjuangan Hernius ini tidak berlangsung lama dan tidak membuahkan hasil lantaran tak mendapatkan dukungan dari VOC yang lebih mementingkan urusan niaga ketimbang pekabaran Injil. Bahkan hingga kepindahannya ke Saparua, tak ada misionaris lainnya yang menindaklanjuti kerja Justus Hernius. 

Catatan sejarah menulis aksi Pekabaran Injil yang dilakukan para misionaris Protestan di tanah Jawa baru dilakukan lagi pada masa ‘pemerintahan sementara’ Inggris pada 1811 – 1815.

Upaya ini dilakukan atas inisiatif Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Indonesia dan Singapura yang mendatangkan orang-orang dari berbagai perhimpunan Pekabaran Injil Inggris.(*/bersambung)