Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono
Pemukiman warga Tionghoa di Batavia di tahun 1908 (foto by: pinterest.com)
Setelah berkembang di kawasan Batavia, aksi penginjilan semakin digiatkan dengan penuh semangat. Badan-badan misionarispun turun ke berbagai daerah, termasuk ke wilayah Pasundan atau Jawa Barat.
Sampai menjelang akhir abad ke-19, tanah Pasundan masih menjadi wilayah yang belum ditaburi oleh Injil, sebab pemerintah Hindia Belanda khawatir akan timbulnya perlawanan dari orang-orang Sunda yang sebagian besar menganut agama Islam.
Apalagi para utusan NZV yang pertama tiba di Batavia pada 1863 dan berniat melakukan pekabaran Injil pada orang-orang Sunda, justru terhambat izin dari pemerintah kolonial disana.
Setelah menteri jajahan Kerajaan Belanda turun tangan, barulah Pdt. C. Albers dapat bekerja di Cianjur mulai 10 Juli 1865. Pun demikian dengan Pdt. A. Djikstra yang sudah terlebih dahulu datang ke Cirebon (1863) dan Pdt. C. Linden di Indramayu (1864).
Namun, orang-orang Sunda ternyata tidak terlalu terbuka terhadap Injil, sebab kekristenan diasosiasikan sebagai agama ‘Urang Walanda’ yang artinya agama bangsa penjajah.
Gara-gara itu NZV tidak berhasil membangun jemaat Sunda meski sudah mengutus sekitar 40 orang pekabar Injil ke wilayah ini di rentang waktu 60 tahun. Bahkan Hendrik Kramer, seorang penasehat badan penginjilan Belanda sampai menggambarkan Jawa Barat sebagai tanah yang tandus.
Pernyataan serupa juga disampaikan H.J. Rooseboom, mantan direktur NZV. "Ada banyak perlawanan di Jawa Barat, memang disana terdapat banyak penentang diantaranya orang-orang Islam dan juga diantara orang-orang kafir.” Mungkin yang disebutnya sebagai orang-orang kafir adalah para penganut animisme.
Namun sebaliknya, hasil yang menggembirakan justru hadir dari kalangan Tionghoa peranakan di pesisir utara Jawa Barat. Ketika Pdt. van der Linden datang ke Indramayu, ia mendapati adanya Jemaat Tionghoa di kota itu.
Selanjutnya, A. Djikstra dalam kesaksiannya mengatakan..., "Untuk pertama kalinya saya berjumpa dengan Gan Kwee. Tiga tahun lalu ia juga berkunjung ke Cirebon. Dari benih Injil yang ditaburkan di situ, ia dapat melihat beberapa hasilnya yang baik.” .(*/bersambung)