Rabu, 12 Maret 2025

Oleh Pribumi dan Tionghoa, Nama Kristus Dikumandangkan Seantero Jawa - Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 10)

 

Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono



foto milik rosenmanmanihuruk.blogspot.com


Para penginjil Tionghoa seperti Gan Kwee, Ang Boen Swie di Indramayu, Khouw Tek San di Purbalingga, Gouw Kho di Batavia, Thung Goan Hok di Bandung, Yoe Ong Pauw di Cirebon, Oei Soei Tiong di Surabaya dan lain-lainnya memainkan peran yang sangat penting dalam mengabarkan injil kepada sesamanya hingga terbentuknya jemaat-jemaat mandiri.

Kendati para pekabar Injil Tionghoa pertama kali mendengar kekristenan dari para misionaris Belanda, namun karya misi dan perintisan jemaat selanjutnya banyak dilakukan oleh orang-orang Tionghoa sendiri. 

Kesamaan etnis, budaya serta penguasaan bahasa mandarin oleh para tokoh iman seperti seperti, memungkinkan pekerjaan misi ini lebih dapat diterima oleh masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. 

Mereka membuka rumah mereka menjadi tempat pengabaran dan pengajaran Injil pada sesamanya. Dan dari tempat itu terjadi pelipat gandaan yang luar biasa. Setiap pengabar injil menghasilkan pekabar-pekabar Injil Tionghoa lainnya yang berkelana dari kota ke kota lainnya.

Bahkan dalam perkembangan berikutnya tokoh-tokoh jemaat Tionghoa itu tidak hanya bertindak sebagai pekabar Injil tetapi juga pemimpin jemaat. Para zendeling NZV nampaknya lebih banyak berperan sebagai pendamping dan pelayan sakramen dari jemaat-jemaat yang baru lahir itu. 

Benih iman itupun tumbuh subur dan menyebar dengan cepat, baik di kalangan peranakan Tionghoa. Seperti gerakan penginjilan yang dilakukan oleh Lee Teng Po, Lee Teng Ho, Lie Kim Tian dan Lee Teng San setelah mereka dikristenkan oleh dua orang misionaris MEC, Worthington dan Baughman.

Dari awalnya 10 orang, persekutuan di sebuah rumah keluarga Tionghoa yang berlokasi di Kampung Muka, Batavia pada sekitar tahun 1905 itupun berkembang begitu pesat. 

Bahkan muncul pula desa-desa pribumi Kristen di pulau Jawa bagian barat. Salah satu contohnya adalah Cideres, Majalengka yang berdiri sejak 1900 atas prakarsa J. Verhoeven, seorang misionaris utusan Nederlandsche Zendings Vereeniging (NZV).

Begitu menginjakkan kakinya di Tanjung Priok pada 4 April 1876, Verhoeven langsung ke Indramayu. Lalu pada 29 Juni 1876 ia mulai mengabarkan Injil di daerah Majalengka.

Pada tahun 1878 ia mendapat bantuan dari dua orang penginjil pribumi, Soleiman Djalimoen dan Yakobus Ariin yang telah di-Kristen-kan oleh pengabar injil dari Batavia, F.L. Anthing. 

Dalam menjalankan aksi penginjilannya, kedua misionaris lokal itu tidak langsung menyampaikan kabar keselamatan Kristus namun memberikan pertolongan pada mereka yang sakit.

Orang-orang itulah yang kemudian mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Djalimoen dan Ariin pun membawa mereka pada Verhoeven untuk mendapatkan pengajaran berikutnya.

Dari merekalah tumbuh benih-benih baru nan subur di kalangan pribumi. Namun pada waktu itu kehidupan petobat-petobat baru itu sangat berat. Mereka dikucilkan dari kehidupan masyarakat serta mendapat tekanan-tekanan berat. 

Lalu Verhoeven pun mengajukan permohonan pada Pemerintah Hindia Belanda di Batavia agar diberi ijin pemakaian tanah untuk pemukiman orang-orang Kristen baru tersebut. Permohonan itu mendapat respon positif. Dan pada secara resmi berdirilah sebuah desa Kristen di Cideres.

Yakobus Ariin setia melayani di Cideres hingga meninggal dunia pada 11 November 1923. Sau setengah tahun kemudian, tepatnya pada 1 Juni 1925 Soleiman Djalimoen pulang ke rumah Bapa di surga. 

Sebelumnya J. Verhoeven meninggal dunia di tengah-tengah jemaatnya dan dimakamkan di Cideres pada 31 Juli 1922. Tugasnya dilanjutkan oleh misionaris lainnya,  A.K. de Groot.

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa munculnya pekabaran Injil di tanah Jawa bukan semata-mata warisan dari badan zending Belanda, namun lebih banyak dilakukan oleh orang-orang Tionghoa dan kaum pribumi yang awam. 

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pada perkembangan selanjutnya ada juga orang-orang Tionghoa maupun pribumi yang memutuskan menjadi Kristen karena alasan politis dan pencarian status sosial di tengah masyarakat. Kekristenan selalu diasosiasikan dengan agama penguasa. 

Dan bagi sebagian orang yang tinggal di Jawa saat itu, agama Kristen dianggap memiliki prestise dan kehormatan yang tinggi. Apalagi dengan diberlakukannya pemisahan golongan seperti Eropa dan Indo-Eropa, Timur Asing dan Pribumi.

Mereka berharap, dengan menjadi Kristen bakal memiliki posisi yang terhormat dan secara politik dapat mendekatkan dirinya dengan para penguasa kolonial yaitu Belanda yang tentu saja berimplikasi langsung pada kesejahteraan hidup.*(tamat)

Selasa, 04 Maret 2025

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 9) - Gerakan Pietisme yang Giatkan Penginjilan di Tanah Jajahan

Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono

Melalui pertemuan komunitas seperti ini, benih iman kekristenan ditaburkan pada warga Tionghoa di Jawa.(foto by: www.mirror.co.uk)


Selepas masa pendudukan Inggris di Indonesia yang berakhir pada 1816, Eropa dilanda sebuah gerakan yang bernama Pietisme, yakni gairah penginjilan pada suku-suku di wilayah koloni Eropa.

Dari awal abad ke 18 yang kemudian kian membara di abad ke-19, kaum Pietis ini menyadari bahwa pekabaran injil pada bangsa yang belum mengenal Kristus adalah tugas gereja yang sangat penting.

Maka berdirilah berbagai lembaga zending untuk membawa orang-orang kepada Yesus Kristus, termasuk bagi warga etnis Tionghoa. Pekabaran injil kepada orang-orang Tionghoa pada masa kolonial Belanda memang dapat dikatakan terlambat. Badan zending Belanda lebih memprioritaskan suku-suku setempat. 

Baru pada 26 Maret 1929 didirikan Badan Misi 'Chinese Foreign Mission Union' oleh R.A. Jaffray, Lelnd Wang, Tzau Liu Thang an Hwang Yen Tsu di Guanxi Tiongkok. Badan misi ini khusus melayani orang-orang Tionghoa di Asia Tenggara, termasuk wilayah Hindia Belanda.

Namun sebelumnya, di akhir abad ke 19 sudah ada tiga kelompok misi Eropa yang melakukan upaya penginjilan terhadap masyarakat Tionghoa yang berdomisili di wilayah Hindia Belanda. 

Mereka adalah The Methodist Episcopal Church (MEC), Nederlandshe Zendings Vereeniging (NZV) dan Nederlandshe Zendings Genostshap (NZG) yang mengirimkan para misionarisnya ke tanah Jawa.

Dari para misionaris itu ada beberapa orang Tionghoa yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Diantaranya Gan Kwee, Ang Boen Swie di Indramayu, Khouw Tek San di Purbalingga, Gouw Kho di Batavia,  Thung Goan Hok di Bandung, Yoe Ong Pauw di Cirebon, Oei Soei Tiong di Surabaya pada 1898.

Dan selanjutnya tumbuh dan komunitas Kristen etnis berkulit oriental tersebut justru terjadi atas kiprah para pekabar Injil Tionghoa sendiri. Meskipun para perintis jemaat ini dibaptiskan oleh para pendeta Belanda, namun mereka yang bergiat melakukan pekabaran injil baik melalui penginjilan keliling maupun pertemuan di rumah-rumah. 

Penasehat Nederlandse Zending Vereeniging (NZV), Hendrik Kramer mengatakan gerakan penginjilan yang dilakukan orang-orang Tionghoa telah menjadi penyelamat bagi pekerjaan NZV di Jawa Barat yang nyaris putus asa.(*/bersambung)

Sabtu, 01 Maret 2025

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 8) - Benih Iman yang Tumbuh di Paris van Java

 Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono


Salah satu sudut kawasan pecinan di Kota Bandung pada masa kolonial Belanda. (Foto by: ayobandung.com)


Orang Tionghoa pertama yang dikristenkan di Bandung adalah Thung Goan Hok. Ia menerima sakramen baptis dari Pdt. A. de Haan pada 9 Desember 1888 jauh sebelum badan zendeling mengutus tenaga misinya bagi orang Tionghoa di Bandung pada tahun 1920. 

Setelah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, ia mulai membuka rumahnya di Jl. Gardu Jati 51A dan menyediakan ruangan untuk perkumpulan pekabaran Injil. 

Upaya pekabaran Injil itupun menghasilkan buahnya dengan dibaptiskannya 17 orang dewasa dan anak-anak pada tahun 1889. Peristiwa itu menjadi tonggak sejarah bagi pekabaran Injil dan cikal bakal terbentuknya jemaat Tionghoa di Paris van Java. 

Selama kurun waktu 1888-1920 tersebut, pekabaran Injil di Kota Bandung dilakukan oleh orang-orang Tionghoa sendiri. Hingga pada tahun 1920, orang-orang Tionghoa dimasukan ke dalam jemaat Sunda di Jl. Kebon Jati 46. 

Tetapi setelah jumlah anggota Tionghoa semakin banyak maka timbul keinginan untuk membentuk jemaat sendiri. Hal ini bukan hanya karena perbedaan bahasa antara orang Tionghoa dan orang Sunda melainkan juga ada istiadat. 

Oleh sebab itu pada Maret 1924 dibentuklah Kerkraad (Majelis Gereja) Tionghoa pertama yang terdiri dari Tan Djin Gie, Tan Kim Tjiang, Tan Goan Tjong, Hong To Bin, Hong Han Keng, Tan Tjok Lim, Lie Kok Man, Lim Djong Sin, dan Pdt. Lasschuit sebagai ketuanya. Maka sejak  tahun 1924 secara resmi berdiri gereja Tionghoa di Bandung. 

Selain Thung Goan Hok, orang-orang Kristen Tionghoa lain yang giat mengabarkan Injil di Kota Bandung dan sekitarnya adalah Tan Goan Tjong, Gouw Gwan Jang dan The Tee Bie. 

Mereka mengabarkan Injil hingga ke wilayah lain di Jawa Barat seperti Cimahi, Cianjur, Tasikmalaya, Garut, dan Cirebon dan menghasilkan buah pertobatan yang banyak pula.(*/Bersambung)

Sejarah Kekristenan Warga Tionghoa di Jawa (Bagian 7) Tarian Kaum Beriman di Indamayu

 Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono


Salah satu rumah tua di kawasan pecinan Indramayu. (Foto by: ayocirebon.com)



Mengutip buku Peringatan 100 Tahun GKI Djabar Indramaju 1858-1958 dan tulisan zendeling S. Coolsma dalam De Zendingseeuw voor Nederlandsch Oost-Indië, tersebutlah seorang Tionghoa bernama Ang Boen Swi.

Sebelum mengenal kekristenan, Ang Boen Swi sangat taat akan kepercayaan leluhurnya. Selain itu ia juga dikisahkan rajin melakukan adat istiadat etnisnya, Tionghoa.

Diceritakan, suatu saat ia melihat seorang misionaris Belanda, Pdt. J.A.W. Kroll yang sedang membaca Alkitab di suatu tempat di luar kota Indramayu. Karena penasaran, iapun bertanya mengenai buku itu. Pdt. Kroll pun meresponnya dengan menerangkan secukupnya tentang keselamatan yang diberikan Yesus Kristus pada semua umat manusia. 

Bukan hanya itu, saat akan berpisah pendeta Belanda itu meminjami Ang Boen Swi Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Melayu. Kemudian ia membaca Alkitab itu hingga akhirnya ia diketahui menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Memang tidak banyak catatan yang mengulas mengenai proses pertobatan Ang Boen Swi. Bisa jadi ia mengalami pergulatan batin yang cukup panjang saat berusaha mencari jaminan keselamatan hidupnya setelah mati nanti. 

Pergulatan batin serupa juga sempat dialami oleh Ang Dji Gwan, anak laki-laki Ang Boen Swi. Pada mulanya ia sangat menentang keras keputusan ayahnya untuk menjadi seorang Kristen. 

Sebagai laki-laki Tionghoa, Ang Dji Gwan memahami betul konsep tradisional yang mewajibkan kepala keluarga atau anak laki-laki memimpin acara penyembahan pada leluhur. Jika keluarganya menjadi Kristen maka tidak ada lagi yang sembahyang kepada nenek moyang dan akan mendatangkan kutukan (Put Hau).

Meski begitu Ang Boen Swi berhasil mengajak seluruh anggota keluarganya termasuk Ang Dji Gwan mengimani ajaran Kristus. Bahkan keduanya bahu-membahu dalam pekabaran Injil pada teman seetnis dan para kerabat mereka di sekitar Indramayu. 

Saat beberapa orang sudah mulai tertarik, mereka pun membuka rumah untuk kebaktian, pekabaran Injil dan penelahan Alkitab di kota Indramayu yang terletak di sekitar lembah Cimanuk.

Pada 13 Desember 1858 Pdt. J.A.W. Kroll membaptis 19 orang Tionghoa di Indramayu. Mereka terdiri dari 6 orang anggota keluarga Ang Boen Swi, 4 orang anggota keluarga Lauw Pang, 7 orang keluarga Lie Hong Leng dan 2 orang dari keluarga Tjie Tek. 

Peristiwa pembaptisan itu menandai lahirnya kelompok jemaat Tionghoa pertama di Jawa Barat. Bahkan pada saat Pdt. J. L. Zeger, utusan NZV melayani di Indramayu, Ang Dji Gwan diangkat sebagai asisten pendeta.

Orang-orang Tionghoa Kristen di Indramayu dikenal sebagai kelompok masyarakat yang berkarakter baik, murah hati dan bersedia membantu. Hingga masa kini jemaat rintisan Ang Boen Swi masih tetap berdiri dan menjadi gereja berlatar belakang Tionghoa paling tua di Jawa Barat. 

Apa yang dilakukan oleh bapak dan anak tersebut berhasil menginspirasi petobat lainnya, Tan Ki An untuk membuka rumahnya bagi pekabaran injil pada orang Tionghoa di Indramayu. 

Kelompok baru ini bahkan tidak hanya menarik orang-orang Tionghoa tetapi juga berhasil memperkenalkan kekristenan pada masyarakat Suku Sunda dan Suku Jawa, khususnya yang tinggal di daerah Tamiyang serta Juntikebon.(*/bersambung)