Disarikan kembali oleh Luddy Eko Pramono
foto milik rosenmanmanihuruk.blogspot.com
Para penginjil Tionghoa seperti Gan Kwee, Ang Boen Swie di Indramayu, Khouw Tek San di Purbalingga, Gouw Kho di Batavia, Thung Goan Hok di Bandung, Yoe Ong Pauw di Cirebon, Oei Soei Tiong di Surabaya dan lain-lainnya memainkan peran yang sangat penting dalam mengabarkan injil kepada sesamanya hingga terbentuknya jemaat-jemaat mandiri.
Kendati para pekabar Injil Tionghoa pertama kali mendengar kekristenan dari para misionaris Belanda, namun karya misi dan perintisan jemaat selanjutnya banyak dilakukan oleh orang-orang Tionghoa sendiri.
Kesamaan etnis, budaya serta penguasaan bahasa mandarin oleh para tokoh iman seperti seperti, memungkinkan pekerjaan misi ini lebih dapat diterima oleh masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda saat itu.
Mereka membuka rumah mereka menjadi tempat pengabaran dan pengajaran Injil pada sesamanya. Dan dari tempat itu terjadi pelipat gandaan yang luar biasa. Setiap pengabar injil menghasilkan pekabar-pekabar Injil Tionghoa lainnya yang berkelana dari kota ke kota lainnya.
Bahkan dalam perkembangan berikutnya tokoh-tokoh jemaat Tionghoa itu tidak hanya bertindak sebagai pekabar Injil tetapi juga pemimpin jemaat. Para zendeling NZV nampaknya lebih banyak berperan sebagai pendamping dan pelayan sakramen dari jemaat-jemaat yang baru lahir itu.
Benih iman itupun tumbuh subur dan menyebar dengan cepat, baik di kalangan peranakan Tionghoa. Seperti gerakan penginjilan yang dilakukan oleh Lee Teng Po, Lee Teng Ho, Lie Kim Tian dan Lee Teng San setelah mereka dikristenkan oleh dua orang misionaris MEC, Worthington dan Baughman.
Dari awalnya 10 orang, persekutuan di sebuah rumah keluarga Tionghoa yang berlokasi di Kampung Muka, Batavia pada sekitar tahun 1905 itupun berkembang begitu pesat.
Bahkan muncul pula desa-desa pribumi Kristen di pulau Jawa bagian barat. Salah satu contohnya adalah Cideres, Majalengka yang berdiri sejak 1900 atas prakarsa J. Verhoeven, seorang misionaris utusan Nederlandsche Zendings Vereeniging (NZV).
Begitu menginjakkan kakinya di Tanjung Priok pada 4 April 1876, Verhoeven langsung ke Indramayu. Lalu pada 29 Juni 1876 ia mulai mengabarkan Injil di daerah Majalengka.
Pada tahun 1878 ia mendapat bantuan dari dua orang penginjil pribumi, Soleiman Djalimoen dan Yakobus Ariin yang telah di-Kristen-kan oleh pengabar injil dari Batavia, F.L. Anthing.
Dalam menjalankan aksi penginjilannya, kedua misionaris lokal itu tidak langsung menyampaikan kabar keselamatan Kristus namun memberikan pertolongan pada mereka yang sakit.
Orang-orang itulah yang kemudian mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Djalimoen dan Ariin pun membawa mereka pada Verhoeven untuk mendapatkan pengajaran berikutnya.
Dari merekalah tumbuh benih-benih baru nan subur di kalangan pribumi. Namun pada waktu itu kehidupan petobat-petobat baru itu sangat berat. Mereka dikucilkan dari kehidupan masyarakat serta mendapat tekanan-tekanan berat.
Lalu Verhoeven pun mengajukan permohonan pada Pemerintah Hindia Belanda di Batavia agar diberi ijin pemakaian tanah untuk pemukiman orang-orang Kristen baru tersebut. Permohonan itu mendapat respon positif. Dan pada secara resmi berdirilah sebuah desa Kristen di Cideres.
Yakobus Ariin setia melayani di Cideres hingga meninggal dunia pada 11 November 1923. Sau setengah tahun kemudian, tepatnya pada 1 Juni 1925 Soleiman Djalimoen pulang ke rumah Bapa di surga.
Sebelumnya J. Verhoeven meninggal dunia di tengah-tengah jemaatnya dan dimakamkan di Cideres pada 31 Juli 1922. Tugasnya dilanjutkan oleh misionaris lainnya, A.K. de Groot.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa munculnya pekabaran Injil di tanah Jawa bukan semata-mata warisan dari badan zending Belanda, namun lebih banyak dilakukan oleh orang-orang Tionghoa dan kaum pribumi yang awam.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pada perkembangan selanjutnya ada juga orang-orang Tionghoa maupun pribumi yang memutuskan menjadi Kristen karena alasan politis dan pencarian status sosial di tengah masyarakat. Kekristenan selalu diasosiasikan dengan agama penguasa.
Dan bagi sebagian orang yang tinggal di Jawa saat itu, agama Kristen dianggap memiliki prestise dan kehormatan yang tinggi. Apalagi dengan diberlakukannya pemisahan golongan seperti Eropa dan Indo-Eropa, Timur Asing dan Pribumi.
Mereka berharap, dengan menjadi Kristen bakal memiliki posisi yang terhormat dan secara politik dapat mendekatkan dirinya dengan para penguasa kolonial yaitu Belanda yang tentu saja berimplikasi langsung pada kesejahteraan hidup.*(tamat)